Eksperimen Dua Mahasiswi UMP Mengolah Bawang Dayak (1)

Diolah Jadi Permen, Rasa Pahit pun Hilang

Eksperimen Dua Mahasiswi UMP Mengolah Bawang Dayak (1)
 Senin, Tanggal 06-08-2018, jam 07:33:18
Novanita Puspa Kencana (kanan) dan Yuyun Meydawati, saat mendemokan cara mengubah bawang dayak jadi permen, beberapa waktu lalu. (Emanuel Liu/Kalteng Pos)

Bawang dayak memang dikenal dengan rasa pahitnya. Masyarakat terkadang ogah mengonsumsinya. Meskipun sebagian orang percaya, tanaman itu berkhasiat dalam menyembuhkan beberapa penyakit.

EMANUEL LIU, Palangka Raya

APRESIASI patut diberikan kepada dua mahasiswi Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMP). Novanita Puspa Kencana dan Yuyun Meydawati, berhasil melakukan penelitian dan menghasilkan olahan permen berbahan dasar bawang dayak.

Bawang dayak dikenal dengan rasa pahit yang kuat. Bagaimana mereka bisa menghilangkannya? Penulis (wartawan Kalteng Pos) menemuinya di kampus, beberapa waktu lalu. Disapa dengan hangat oleh mereka. Langsung menuntun ke laboratorium.  

“Awal kerja, tentu tidaklah mudah. Karena harus berpikir, menemukan cara untuk menghilangkan rasa pahit pada bawang,” ucap Novanita.

Berulang kali melakukan eksperimen. Eksperiman pertama, gagal. Kedua, gagal. Berikutnya, gagal lagi. Tidak menyerah begitu saja. Sampai akhirnya, bisa menaklukkan bawang dayak ini.

“Kami menemukan senyawa sarbitol (gula alkohol). Senyawa ini dapat diperoleh dengan mereduksi glukosa,” katanya.

Dua mahasiswi berparas ayu ini, langsung mendemokan cara menghilangkan rasa pahit pada bawang dayak. Mereka membuatkannay dalam bentuk permen. Prosesnya pun simpel. Tidak rumit.

Bawang dayak segar dijemur terlebih dahulu di bawah terik matahari. Setelah kering, didapatkan simplisasi (bahan dasar obat). Kemudian, direbus selama 15 menit.

Lalu, dicampur dengan air, 75 gelatin (zat kimia padat), gula 30 gram, sorbitol 5 gram, dan jeli 20 gram, untuk menghilangkan rasa pahit pada bawang dayak.

Semuanya ditimbang, dicampur, lalu diletakkan lagi di atas kompor. Sekitar 20 menit, benda cair berwarna kemerah-merahan itu siap diseduh ke dalam cetakan permen.

“Nah, baru setelah agak dingin, bisa dimasukkan ke lemari es. 10 menit, setelah beku, permen bawang dayak sudah bisa dinikmati,” beber Novanita.

Temuan ini merupakan yang pertama di Kalteng. Kedua mahasiswi ini berencana membuat produk tersebut dalam sebuah kemasan, yang bernilai ekonomis.

“Saat ini, kami masih terus berupaya untuk melanjutkan uji stabilitas, dan melakukan proses penyempurnaan, sampai akhirnya produk layak jual,” timpal Yuyun.

Wanita 21 tahun ini membeberkan, perbedaan bawang dayak dikonsumsi langsung dan diolah menjadi sebuah permen, sangat jelas. Sehingga, pihaknya membuat formula seperti ini, agar masyarakat yang tidak suka pahit, bisa juga mengonsumsinya.

Selain itu, bawang dayak juga memiliki banyak khasiat, seperti antikanker, antioksidan, untuk menyembuhkan penyakit diabetes, serta sebagai antibakteri yang berguna bagi kesehatan.

Temuan ini pun diyakini akan mendapatkan antusias dari masyarakat. Karena selain bahannya yang mudah dicari, juga membantu masyarakat untuk mendapatkan penghasilan melalui produk tersebut.

Sebab, sesuai dengan hitungan mereka, hanya membutuhkan uang tak mencapai Rp20 ribu, untuk bisa membeli bahan baku.

“Sudah dapat menghasilkan keuntungan yang mencapai Rp50-60 ribu,” sebutnya, diamini rekannya, Novanita.

Hal ini, tentu diyakini sangat membantu masyarakat, dalam mendorong perekonomian di Kalteng. Bawang dayak cukup mudah dicari. Salah satunya di tempat budi daya Se’i Gohong.

Mahasiswi Fakultas Farmasi tersebut, memiliki alasan tersendiri memilih bawang dayak sebagai bahan dasar pembuatan permen. Karena memiliki khasiat dan merupakan ciri khas Provinsi Kalteng.

“Walaupun pernah ditemukan di Sumatera dan di daerah lain, namun berdasarkan penelitian yang paling tinggi khasiatnya adalah bawang dayak,” ungkap Novanita didampingi dosen pembimbing, Rezqi Handayani.(ce/ram/ctk/dar)

Berita Terkait