FOR HER

Ketekunan Niang Menghasilkan Kesuksesan

 Minggu, Tanggal 05-08-2018, jam 08:34:54
Sejak kecil Niang sudah diajarkan menganyam. Ketekunannya dalam usaha ini berbuah manis. Hasil anyamanannya, kini tak hanya dipasarkan di Kalteng, tapi hingga ke luar negeri seperti Australia dan Belanda. (RIDUAN/KALTENG POS)

MUNGKIN tidak banyak pengusaha yang tertarik untuk bergelut pada usaha anyaman rotan. Pasalnya, selain bahan dasar rotan cukup sulit dicari, pemasarannya juga membutuhkan tenaga ekstra. Apalagi, mengingat kini sudah memasuki era modern. Tidak banyak yang tertarik untuk mencintai kearifan lokal. Di tengah kondisi tersebut, ternyata masih ada saja yang menekuni usaha tersebut dan sukses.

Niang, dengan jari-jarinya, perempuan ini berhasil mengolah tanaman jenis rotan yang adalah maskotnya Kalteng, menjadi barang barang, seperti sandal, tas, tikar dan topi.  Bahkan, usaha anyaman ini, tidak hanya berhasil menarik perhatian warga Kalteng, tapi juga diminati oleh pasar domestik dan manca negara.

Niang bukanlah satu satunya perajin anyaman di Kalteng. Tapi bisa dikatakan, ia salah satu pengusaha sukses yang berhasil mengembangkan bisnis ayaman rotan ini. Perempuan kelahiran 28 Agustus 1987 lalu ini, sudah ahli mengayam sejak kecil. Mahir menganyam itu ternyata sudah warisan turun temurun dari keluarganya.

Di samping melihat kemampuan tersebut, ia juga melihat prospek mengembangan usaha jenis rotan sangat baik. Terutama untuk mengangkat nilai-nilai kearifan lokal di Kalteng dan sebagai salah satu sumber daya alam yang masih ada hingga saat ini.

“Kami sudah turun temurun bisa menganyam ini. Dilihat dari situ, kami coba untuk mengembangkan, hingga saat ini masih berjalan,” katanya, kepada Kalteng Pos, saat dibincangi dikediamannya, Sabtu (4/8).

Proses menganyam perlu ketelatenan dan fokus, apalagi anyaman yang bermotif, sedikit saja salah dari awal maka akan salah semua. Meski begitu, Niang tidak pernah mengalami kesulitan. Dalam satu hari, ia mampu menyelesaikan satu jenis kerajinan. Namun, bagi yang masih pemula mungkin lebih dari satu hari.

Bagi Niang, agar usaha tersebut bisa terus berjalan di tengah era modern, kunci utama adalah ketekunan. Jika sudah tekun dan konsisten, maka usaha apapun yang dilakukan pasti berhasil. Begitu pula dalam hal inovasi memasarkan.

“Saya berharap ada banyak perajin ayaman seperti ini, karena selain mengangkat dan menjaga kearifan lokal budaya kita. Tentunya prospek usaha yang cukup menjanjikan, kuncinya ketekunan,” ucapnya.

Niang yang juga guru di TK Pembina I ini di RTA Milono ini, mulai mandiri membuka usaha tersebut sejak 2015 lalu. Sebelum itu, ia mengikuti kelompok usaha penganyam rotan untuk mengolah barang-barang tersebut. Sedangkan untuk mendapatkan bahan baku anyaman, Niang bersama tujuh orang keluarganya, harus mencari ke luar Kota Palangka Raya. Yakni memasok dari Barsel.

“Kalau di sini masih susah saya mencari bahan baku itu, kalau di Barito masih banyak, sehingga dari sanalah kami membeli bahan baku setengah jadi,” jelasnya.

Jenis koleksi Niang, yang sangat diminati masyarakat adalah tas, lawung dan lumpit. Untuk tas paling murah dihargai sekitar Rp800.000. Sedangkan untuk anyaman tikar tergantung motif, bisa dihargai hingga Rp1.000.000.

“Rata-rata peminat adalah ibu-ibu, ataupun tamu dari luar Kota Palangka Raya. Kalau tas biasanya yang diminati adalah jenis original atau tidak dicampur dasar kulit,” kata ibu dari dua anak ini.

Kini, produk Niang, tak hanya dipasarkan di Kalteng dan Jakarta, namun sudah merambah ke luar negeri seperti Australia dan Belanda. Rata-rata tas yang diminati yang asli dari rotan tanpa ada kombinasi dari bahan kulit.

Untuk pemasaran kerajinannya tersebut, ia mengandeng beberapa tempat wisata kuliner. Hasil anyaman itu, dititipkan di tempat itu.

Berbincang, modal membuka usaha tersebut, menurut Niang, tidaklah begitu besar. Namun bisa mendapatkan penghasilan tetap. Keuntunganya yang Niang ambil tidaklah terlalu besar. Rata-rata dalam satu bulan, hasil kerajinan tangan ini laku 100 buah.

“Mungkin dari sisi keuntungan tidak terlalu besar, karena harga yang kami patok juga masih standar saja. Biasanya, jika banyak yang pesan, apabila ada pesanan dari dinas-dinas atau instansi untuk pelantihan sebagai cenderamata,” ujarnya. (ari/aza/ctk/nto)

Berita Terkait