Ilustrasi: pengisian avtur pesawat. (foto: net)


MELAMBUNGNYA harga tiket pesawat beberapa waktu lalu bukan akibat harga bahan bakar Avtur PT Pertamina. Sebab, kenaikan harga tiket justru terjadi ketika harga Avtur sedang mengalami penurunan 16 persen sejak November 2018 lalu.

Komisioner Ombudsman RI Alvin Lie melihat kondisi tersebut sebagai keanehan. Apalagi, saat ini nilai tukar mata uang rupiah juga sedang menguat.

"Ini anomali. Biasanya beberapa minggu setelah Avtur turun harga tiket juga turun. Kecuali kalau rupiah nyungsep, itu berbeda," kata Alvin Lie kepada wartawan di Jakarta, Minggu (20/1).

Alvin Lie yang juga pengamat penerbangan melihat Garuda Indonesia sebagai maskapai yang dianggap paling bertanggung jawab atas kenaikan harga tiket, karena sejak Oktober 2018, Garuda selalu memasang harga pada subclass tertinggi. Akibatnya maskapai lain juga ikut menaikkan.

"Jika saja Garuda tidak naik maka maskapai lain juga tidak berani menaikkan," katanya.

Harga tiket pesawat menjadi sorotan dalam beberapa pekan terakhir. Apalagi Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Air Carriers Association/INACA) kemudian meminta Pertamina menurunkan harga Avtur. Permintaan itu juga banyak disorot karena harga Avtur sebenarnya sudah turun sejak November 2018 sesuai penurunan harga minyak dunia. (wah/rmol/kpc)

You Might Also Like