Jalan Tumbang Telaken Km 108-119, tepatnya di Desa Taringen-Bereng Jun, dan Fajar Harapan, Kecamatan Manuhing, Kabupaten Gunung Mas rusak. Tampak kendaraan muatan besar melintasi jalan tersebut, Sabtu (19/1). (DENAR/KALTENG POS)


PALANGKA RAYADibangun tahun 2013-2014, ruas jalan Tumbang Telaken di kilometer 108-199, yang menghubungkan Desa Taringen, Bereng Jun, dan Fajar Harapan, Kecamatan Manuhing, Kabupaten Gunung Mas (Gumas), kini kondisinya rusak parah. Bahkan aspal jalan banyak yang rusak dan berlubang hingga kedalaman 30-50 cm.

Sabtu pagi (19/1), Kalteng Pos melewati langsung jalan tersebut. Saat melintas di Desa Taringen sepanjang 1 kilometer hingga Desa Bereng Jun, tampak jelas kerukakan jalan tersebut. Dalam 20-100 meter perjalanan, pengendara akan dihadang aspal yang berlubang. Kondisi aspal pun sudah rusak parah atau mengelupas. Kendaraan-kendaraan baik pelat KH maupun non-KH, setiap hari melewati jalan tersebut.

Memasuki Desa Taringen, jalan aspal yang baru dilakukan perbaikan itu berdiameter 8 meter. Setelah separuh perjalanan, aspal menyempit. Tersisa berdiameter 5 meter lebih. Hal ini dicurigai karena pengerjaan pemeliharaan aspal yang diduga asal-asalan atau setengah-setengah.

Karena kerusakan jalan tersebut, beberapa truk pengangkut kelapa sawit maupun truk bermuatan besar pengangkut alat PLTU dan lainya, harus antre untuk melewati jalan itu. Kedalaman lubang sekitar 30 cm. Apalagi kondisi jalan yang licin akibat hujan. Bahkan, di area jalan rusak setelah Desa Bereng Jun, ada perbaikan jalan oleh salah satu perusahaan sawit.

Saat ditanya, salah satu pengemudi truk bernama Saiman Hadi (37) mengatakan, kondisi jalan sangat parah akibat rusak dan berlubang. Harus ekstra hati-hati melewati jalan tersebut, terlebih pada musim hujan.

“Sangat parah kalau tidak hati-hati. Sering kendaraan besar terguling akibat jalan yang rusak dan licin," ungkap Saiman sembari mengambil material menutup lubang jalan agar bisa dilalui kendaraannya, Sabtu siang (19/1).

Menurut Saiman, kondisi tersebut sudah cukup lama. Bahkan menurutnya, kondisi jalan tidak layak lagi untuk digunakan, karena aspal yang terputus-putus.

"Kadang harus antre kalau mau lewat. Karena jalan di Telaken ini memang ramai dilalui kendaraan besar,” tuturnya.

Bukan hanya pengguna jalan yang resah akibat jalan rusak. Warga pun ikut waswas. Tampak ada sebuah papan imbauan saat memasuki salah satu desa. Dalam imbauan tertulis; Hati-hati. Banyak anak-anak. Nyawa dibayar nyawa. Hal itu sebagai peringatan bagi pengendara yang melintas di perkampungan, agar bisa mengurangi kecepatan kendaraan.

Lain halnya dengan Berto (27). Menurutnya, jalan yang rusak sangat berdampak kepada masyarakat. Debu dari jalan yang rusak sangat mengganggu kesehatan. Terutama bagi anak-anak yang sehari-hari bermain di dekat jalan tersebut.

“Sebagai warga, ya kami waswas. Kami pun beri peringatan bagi anak-anak agar berhati-hati saat bermain di dekat jalan. Sebab, jalan rusak sering menimbulkan kecelakaan,” ujarnya.

Saat dikonfirmasi Kalteng Pos, Kepala Desa Fajar Harapan, Kecamatan Manuhing, Kabupaten Gunung Mas, Wahidin mengatakan, kondisi jalan di desanya sudah sebulan lebih mengalami kerusakan parah dan sulit dilalui kendaraan.

“Banyak kendaraan harus antre. Persis di depan rumah saya. Bahkan sopir-sopir pernah bermalam selama dua hari, karena truk tidak bisa melewati jalan yang licin setelah turun hujan," ungkap Wahidin.

Dia pun menceritakan, pembangunan jalan tersebut berawal pada tahun 2013. Pengerjaan dan pengaspalan berakhir pada tahun 2016-2017.

"Sebenarnya jalan ini tergolong baru. Yang garap jalan ini, seingat saya namanya Pak Segah atau Pak Siang. Jalan baru diaspal sekitar setahun lebih, namun sudah rusak parah,” beber Wahidin.

Terkait kondisi lebar jalan yang berbeda di Taringen dan Bereng Jun, menurutnya hal itu karena adanya pemeliharaan dan perbaharuan aspal. Namun, kenyataannya sudah kembali rusak dan berlubang. Ini jadi keluhan pengendara. Apalagi saat musim hujan tiba.

“Memang ada yang mengeluh. Tapi kalau dilihat, kendaraan yang mereka bawa adalah kendaraan dengan muatan yang berat seperti tronton hingga truk besar yang membawa alat-alat PLTU, dengan berat beban melebihi 3 ton. Coba kita berpikir, aspal tipe C sedangkan yang melintas adalah kendaraan tipe A," ucapnya.

Dengan kondisi ini, ia berharap kepada pemerintah agar secepatnya memperbaiki jalan yang rusak itu. Tak hanya pemerintah saja, tapi perusahan-perusahaan yang berinvestasi di sekitar desa itu, diharapkannya bisa memberikan perhatian, dengan bergotong royong bersama warga untuk menimbun jalan dan membuat pengerasan jalan.

“Saya rasa tidak masalah, baik pemerintah atau perusahaan-perusahan bergotong royong bersama masyarakat memperbaiki jalan tersebut. Toh truk muatan sawit hingga CPO juga akan melewati jalan itu. Sebenarnya masyarakat sekitar yang merasakan dampaknya. Jika kondisi jalan rusak, perekonomian juga tentunya terganggu," cetusnya.(ena/abw/nue/ce/ala/ctk)

You Might Also Like