Dari Acara Pramunas dan Deklarasi ICDN

Willy Ketum Sementara, Ingatkan Cendekiawan Dayak Harus Kritis

 Senin, Tanggal 21-01-2019, jam 05:48:53
Inisiator ICDN Willy M Yoseph menyampaikan pernyataan deklarasi didampingi perwakilan delegasi dari lima provinsi di Kalimantan di Hotel Swisbell Danum. (PANITIA FOR KALTENG POS)

Inisiator Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN) Dr Ir Willy Midel Yoseph MM dipilih secara aklamasi menjadi ketua umum sementara ICDN hingga gelaran musyawarah nasional (Munas) I yang akan dilaksanakan bulan Maret 2019 di Samarinda, Kaltim.

PAHIT S NAROTTAMA, Palangka Raya 

 

PRAMUNAS dan Deklarasi ICDN yang dihadiri 300-an cerdik cendekia Dayak dari lima wilayah provinsi di Kalimantan dan luar Pulau Kalimantan tersebut juga merekomendasikan peran serta kaum cendekiawan Dayak untuk berani kritis terhadap hal yang dinilai merugikan kehidupan sosial masyarakat, khususnya Suku Dayak.

“Cendekiawan Dayak harus berani tajam (kritis, Red) ke atas dan ke bawah,” kata Willy kepada wartawan usai deklarasi di Hotel Swisbell Danum.

Tajam ke atas kata dia, cendekiawan Dayak harus berani mengkritik berbagai kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada masyarakat Suku Dayak, khususnya. Sementara tajam ke bawah lanjutnya, cendekiawan Dayak harus mampu merangkul dan merangkum aspirasi yang harus disuarakan ke pemerintah. Namun secara elegan, dengan cara pikir dan penyampaian yang logis, rasional dan sistematis.

Dikatakan Willy, ICDN merupakan rumah besar bagi cendekiawan Dayak dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, kaum cerdik cendekia Dayak harus menjadi subjek aktif dalam proses pembangunan yang merata di seluruh wilayah Kalimantan.

Selain mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan dan berkeadilan melalui peningkatan sumber daya manusia Dayak yang kreatif dan inovatif, ICDN juga memiliki tanggung jawab dalam memajukan pendidikan dan kebudayaan Dayak serta menjadi sumbangsih positif ke tingkat nasional dan dunia.

“Sebagai wadah aspirasi kaum cendekiawan, ICDN memperjuangkan kesejahteraan masyarakat Dayak yang merata dan menjadikan putra-putri Dayak untuk memimpin pada tingkat daerah, nasional, dan internasional,” katanya seraya menambahkan bahwa ICDN merupakan organisasi yang mandiri dan tidak berafiliasi kepada salah satu partai politik dan atau organisasi pendukungnya.

Dalam poin deklarasi lanjut Willy, kaum cendekiawan Dayak adalah pewaris pusaka pulau Kalimantan yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa untuk dikelola secara lestari dan berkelanjutan.

Cendekiawan Dayak juga memiliki kekuatan, kecerdasan, potensi dan keunggulan serta kearifan warisan nenek-moyang, yang menjadi modal utama untuk hadir aktif dalam proses mengisi kemerdekaan, mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

“Kami sangat sadar bahwa ada banyak hambatan internal dan eksternal yang menghalang namun juga memacu kami untuk berjuang keras mewujudkan kehidupan yang sejahtera dan bermartabat,” imbuhnya.

Dengan semangat Tumbang Anoi 1894 kata dia, cendekiawan Dayak terpanggil untuk melakukan perjuangan intelektual, agar kaum cerdik cendekia Dayak hadir aktif, berkarya, dan bermakna bagi bangsa Indonesia.

“Kami harus bersatu-padu dalam satu ikatan bersama rumah besar, wadah perjuangan  cendekiawan Dayak yaitu organisasi independen yang berlandaskan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika,” kata Willy.

Selain pramunas dan deklarasi ICDN, ketua umum sementara juga meresmikan Betang Duhup Haduhup Jalan Pangrango 41 sebagai Sekretariat Nasional ICDN. (ala) 

Berita Terkait