Limbah Lumpur PT MUTU Diduga Rusak Kebun Karet Warga

 Minggu, Tanggal 20-01-2019, jam 08:24:42
Ilustrasi. Aktivitas penambangan batu bara. (foto: net)

BUNTOK – Warga Desa Tetei Lanan Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan, menuntut PT Multi Tambang Jaya Utama (MUTU) mengganti rugi kebun karet terkena limbah lumpur yang diduga berasal dari aktivitas perusahaan tersebut.

Salah seorang pemilik kebun karet yang terdampak lumpur, Maria mengatakan, pihaknya meminta tanggungjawab dan ganti rugi dari perusahaan PT MUTU yang bergerak dipertambangan Batubara.

Ia menceritakan, kebun karet milik mereka tersebut seluas kurang lebih 5 hektar. Pada pertengahan tahun 2016 lalu akibat aktivitas houling PT MUTU kebun milik mereka kena limbah lumpur.

“Kebun karet kami seluas kurang lebih 5 hektar tidak bisa disadap atau dikerjakan lagi. Padahal kebun itu satu-satunya mata pencahrian kami,” kata Maria kepada Kalteng Pos, Jumat (18/1).

Ia mengungkapkan, dari tahun 2016 pihak perusahaan tidak ada itikad baik untuk mengganti rugi terkesan masa bodoh dengan permasalahan tersebut.

Pihaknya beberapa kali ingin bertemu dengan manajemen perusahaan, namun selalu tidak bertemu. Pada tahun 2018 pihaknya akhirnya bertemu dengan dua orang perwakilan manajemen PT MUTU yakni dengan Edi Winaris dan Sodargo.

“Pada pertemeuan tersebut mereka malah bilang tidak ada urusan dengan mereka. Malah mereka menganjurkan kita ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Barsel, jika ada keputusan kita siap bayar,” beber dia.

Setelah ada keputusan hasil verifikasi lapangan yang dilakukan oleh DLH, lanjut dia, hingga kini mereka tidak mau mengganti rugi kebun karet yang terdampak lumpur tersebut.

Ia mengungkapkan, adapun saran dari DLH kepada pihak perusahaan untuk meningkatkan penyiraman pada musim kemarau untuk meminimalisir debu akibat aktivitas kendaraan angkutan batubara sepanjang jalan hauling.

Selanjutnya, memasang gorong-gorong untuk mempermudah masyarakat menuju kebun. Dan juga diminta membuat kolam pengendap ditanah milik PT MUTU.

Dan disebelah kanan jalan hauling juga diminta pada gorong-gorong agar tanggul ditinggikan, sehingga air larian tidak mengalir ke kebun saudara Apakson, suaminya Maria.

Ia menegaskan, pada Senin (14/1/2019) pihaknya kembali bertemu dengan Edi Winaris dan Sodargo  di lokasi kebun. Namun dalam pertemuan itu, kembali tidak ditemukan jalan keluar. Justru Edi dan Sodargo diduga melakukan intimidasi. Sehingga saat itu terjadi tindak kekerasan yang dilakukan Apakson.

“Kita meminta mereka datang kerumah untuk membicarakan secara baik-baik terkait limbah lumpur tersebut. Namun Edi Winaris menjawab, tidak usah dan mendorong saya dan suami saya,” tandas dia.

Sementara jajaran Manajemen PT MUTU belum satupun yang bisa dan mau memberikan konfirmasi terkait pemasalahan tersebut. Bahkan, pihak securiti perusahaan yang berada di Desa Mangaris Kecamatan Dusun Selatan pun melarang wartawan ini masuk ke lokasi kantor perusahaan, Sabtu (19/1) akhir pekan lalu.

“Maaf mas, siapapun tidak boleh masuk tanpa seiijin pimpinan,” ujar salah satu securiti. (ner/OL/nto)

Berita Terkait