Oleh : Muhammad Asep Zaelani


HASIL survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2018, diketahui bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta. Jumlah tersebut meningkat dari survei serupa yang pernah dilakukan pada tahun 2016, yaitu sebanyak 132,7 juta.

Harga smartphone yang semakin terjangkau, diikuti dengan jaringan internet yang semakin luas dan kualitas koneksi yang semakin baik, turut mendorong pertumbuhan pengguna internet di Indonesia. Ditambah lagi dengan kehadiran berbagai platform media sosial seperti Facebook, Twitter, IG atau WhatsApp yang “memaksa” para penggunanya untuk selalu terikat dengan internet.

Tingginya angka pengguna internet tersebut tentu saja membuka peluang bagi tumbuhnya bisnis-binis rintisan berbasis teknologi atau yang lebih dikenal dengan istilah startup. Ceruk pasar startup yang besar di Indonesia memang menggiurkan, tidak hanya jadi rebutan para pemain lokal saja, namun juga jadi incaran para pemain raksasa dari luar negeri yang ingin melebarkan sayap bisnisnya di Indonesia.

Berdasarkan StartupRanking, Indonesia berada di peringkat ke empat dari daftar negara yang memiliki jumlah perusahaan rintisan berbasis teknologi terbanyak setelah Amerika Serikat, India dan Inggris. Hingga saat ini, ada sekitar 1.720 startup lokal yang ada di Indonesia. Dan jumlah tersebut diprediksi akan terus mengalami perkembangan secara signifikan setiap tahunnya.

Bisnis startup kita saat ini masih berfokus pada beberapa sektor primadona, diantaranya sektor transportasi, travel dan e-commerce. Beberapa startup lokal di tiga sektor ini ada yang sudah masuk dalam katagori “unicorn”,  yaitu startup dengan nilai valuasi di atas US$1 miliar atau sekitar Rp 13 triliun. Sebut saja misalnya Gojek, Bukalapak, Tokopedia dan Traveloka. Dari yang awalnya hanya sebuah startup, berhasil mengantarkan para pemiliknya ke jajaran elit orang-orang kaya baru di Indonesia.

Namun diantara beragam model startup yang terus bermunculan di Indonesia, ada beberapa startup yang yang tujuan awal pendiriannya tidak hanya sekedar mencari keuntungan semata, namun juga mempunya misi sosial tertentu dari para pendirinya (social entrepreneurship). Misalnya saja startup-startup yang bergerak dibidang pertanian dan peternakan.

Sebagai salah satu contohnya TaniHub. Startup pertanian ini ide awal pendiriannya ingin membantu para petani dalam memasarkan hasil pertaniannya langsung kepada konsumen, tanpa melalui perantara. Mereka membuat sebuah model bisnis e-commerce pertanian yang bisa memotong mata rantai pemasaran hasil pertanian yang selama ini dikenal sangat panjang dan tidak terlalu berpihak kepada para petani.

Dengan memfasilitasi penjualan hasil pertanian secara langsung kepada konsumen, selain memberikan kualitas produk yang terjaga dan harga yang kompetitif untuk para konsumen, mereka juga tetap memperhatikan keuntungan yang lebih wajar bagi para petani/kelompok tani yang menjadi mitranya. Sampai saat ini tercatat sudah ada 25 ribu petani yang menjadi mitra mereka.

TaniHub juga terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan terhadap para mitranya. Mereka tidak hanya membantu pemasaran saja, namun tergerak untuk terjun langsung kelapangan, melakukan proses pendampingan, mengedukasi para petani cara meningkatkan kualitas dan kuantitas produk dengan cara mengenalkan tehnik budidaya yang baik dan penerapan inovasi teknologi pertanian yang terbaru.

Bahkan kini TaniHub melahirkan diversifikasi layanan melalui TaniFund, yaitu sebuah layanan crowdlending yang memungkinkan masyarakat secara perorangan atau perusahaan bisa ikut membantu aspek permodalan para petani. Keterbatasan akses para petani terhadap akses permodalan di lembaga keuangan formal (khususnya bank) menjadi salah satu permasalahan utama yang coba dicarikan jalan keluarnya oleh TaniFund.

Meski negara kita dikenal sebagai negara agraris, namun bukan berarti kesejahteraan para petani kita sudah terjamin. Alih-alih sejahtera, kondisi para petani kita saat ini masih banyak yang termarginalkan dan berkubang dalam lumpur kemiskinan yang tak berujung. Ditengah kondisi seperti ini, kehadiran startup-startup yang berbasis social entrepreneurship seperti TaniHub jelas membawa angin segar bagi perbaikan kehidupan nasib para petani di Indonesia. (*)

(Penulis adalah Praktisi CSR dan Community Development. Bekerja sebagai Government Relation & Permitting di PT Marunda Grahamineral)

Content 1 tulis di sini......
Content 2 tulis di sini......
Content 3 tulis di sini......
Content 4 tulis di sini......
Content 5 tulis di sini......
1 2 3 4 5

You Might Also Like