Ilustrasi. (foto: net)


MEDIA sosial menjadi kanal bagi sebagian orang untuk saling mengenal atau mengungkapkan isi pemikiran. Seiring waktu, keberadaan media sosial begitu penting dan banyak membantu keperluan sehari-hari. Meski begitu, media sosial juga bisa sangat memengaruhi kesehatan Anda. Apalagi jika terlibat dalam situasi yang justru menjadi penyebab stres, termasuk adanya debat yang tidak sehat.

“Survei membuktikan bahwa penggunaan media sosial secara umum dapat mengakibatkan gangguan tidur, gangguan cemas, hingga depresi. Semakin banyak dan semakin lama menghabiskan waktu bermain media sosial, risiko depresi juga semakin tinggi,” ujar dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter. 

Media sosial pengaruhi kesehatan mental

Pada tahap lanjut, media sosial bisa menjadi arena pertarungan bagi mereka yang berbeda pendapat. Apalagi memasuki tahun politik, hal itu bisa benar-benar terjadi. Melihat atau terlibat dalam perdebatan tersebut bisa bikin Anda stres.

Faktanya, media sosial mampu berdampak buruk pada kesehatan mental. Jadi, ujaran kebencian yang ditebarkan oleh warganet terkait kondisi politik Indonesia 2019 juga dapat menimbulkan gangguan kecemasan, stres, hingga depresi, apalagi jika ikut terlibat di dalam debat tersebut.

Pada dasarnya, penting bagi Anda sebagai individu dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan pribadi satu sama lain. Misalnya, terjadi diskusi terkait perbedaan pandangan politik, maka hal itu bisa dilakukan dengan kepala dingin tanpa harus melakukan perdebatan.

Stres pengaruhi sistem otak

Apa yang terjadi sekarang di media sosial sekarang ini adalah kebalikannya. Saat ada perbedaan pemikiran dari masing-masing orang, yang terjadi malah sebuah “gesekan” bahkan perdebatan kusir. Ketika Anda mengalami atau terjun langsung untuk terlibat dalam hal itu, tekanan demi tekanan akan dirasakan sehingga stres atau depresi tak bisa dihindari lagi.

Menurut dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, seseorang yang stres akan mengalami perubahan pada sistem otaknya, terutama area hipotalamus yang berhubungan dengan sistem hormonal otak serta saraf otonom.

“Ketika stres tidak diadaptasi baik oleh otak, maka terciptalah produksi hormon stres bernama kortisol yang berfungsi membalikkan keadaan normal fisiologis dari tubuh. Hormon tersebut dapat membuat peningkatan gula darah, peningkatan denyut jantung, menurunkan produksi antibodi, serta meningkatkan lemak dalam darah,” kata dr. Reza.

Lebih lanjut, dr. Reza mengatakan bahwa efek tersebut berkaitan dengan munculnya penyakit-penyakit kronis, seperti darah tinggi atau hipertensi, penyakit jantung, serangan, dan strok.

Nah, supaya Anda tak berakhir pada kondisi mengerikan tersebut, lembaga Royal Society for Public Health menganjurkan untuk tidak menggunakan media sosial terlalu lama. Batas waktu yang aman untuk menggunakan media sosial dalam sehari adalah dua jam. Penggunaan lebih dari itu dapat meningkatkan tekanan psikologis, yang akan berujung pada stres maupun depresi.

“Agar dampak buruk tersebut tidak terjadi pada diri Anda, gunakanlah media sosial secara bijak. Sempatkanlah waktu untuk beraktivitas atau berinteraksi langsung dengan orang lain, karena ini jauh lebih baik bagi kesehatan mental Anda,” tutur dr. Sepri.

Sudah paham ‘kan mengapa melihat atau terlibat langsung dalam debat – termasuk debat politik - di media sosial dapat membuat Anda stres? Mulai saat ini, gunakanlah media sosial dengan lebih bijak lagi agar Anda bisa benar-benar menjauhkan diri dari hal-hal semacam itu. Dengan demikian, stres atau depresi tidak akan tejadi dan kesehatan mental Anda terus terjaga dengan baik.(NB/RVS/klikdokter)

You Might Also Like