Pulihkan Pariwisata Pascagempa

 Minggu, Tanggal 20-01-2019, jam 06:58:57
FRIZAL/JAWAPOS SAMBUT TAMU: Dua pemuda memainkan kesenian tradisional masyarakat suku Sasak, Peresean, di Desa Sade, Lombok.

GEMPA berkekuatan 6,4 skala Richter pada Juli 2018 lalu sempat membuat sektor pariwisata di Lombok lesu. Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Nusa Tenggara Barat (NTB) menyebutkan, pada Agustus hingga September 2018 saja, Lombok harus kehilangan potensi wisatawan mancanegara yang ingin berkunjung lebih dari 100 ribu orang.

’’Memang jumlah wisatawan menurun drastis. Banyak yang waswas untuk datang ke Lombok,’’ kata Ketua DPD HPI NTB Ainuddin di sela-sela gathering Lombok Bangkit dan promosi pariwisata di Surabaya, beberapa waktu lalu.

Saat ini, lanjut dia, Lombok sangat siap menerima wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Sejumlah infrastruktur yang rusak akibat gempa kembali normal.

Untuk mendongkrak kembali jumlah wisatawan yang datang ke Lombok, pihaknya saat ini gencar mempromosikan kembali berbagai destinasi wisata. Termasuk road show di Surabaya.

’’Kami ingin meyakinkan kepada masyarakat bahwa Lombok sudah pulih,’’ tegasnya.

Destinasi yang bisa dikunjungi sekarang, antara lain, Pantai Pink, Pantai Kuta Mandalika, Pantai Selong Belanak, Desa Adat Sade, hingga Desa Wisata Sekotong.

Bukan hanya itu, pihaknya juga aktif melakukan trauma healing untuk memulihkan kondisi psikologis masyarakat, pelaku wisata, dan industri yang terdampak gempa. ’’Kami juga terus-menerus melakukan pendekatan kepada stakeholder untuk membantu pemulihan pariwisata Lombok agar semuanya bisa normal kembali,’’ jelasnya.

Sejauh ini, kontribusi wisatawan domestik yang berkunjung ke Lombok mencapai 60 persen. Sebagian besar berasal dari Surabaya, Jakarta, Jogjakarta, Palembang, dan Medan. Kemudian, 40 persen merupakan wisatawan mancanegara dari berbagai negara Asia dan Eropa. ’’Surabaya adalah pasar terbesar kami,’’ujar Ainuddin. (car/c19/fal)

Berita Terkait