ALLEX QOMARULLA/JAWA POS CERITA TENTANG ALAM: Pengunjung menikmati lukisan yang dipamerkan di Galeri Paviliun, House of Sampoerna.


SEBUAH lukisan berukuran 100x100 sentimeter yang menampilkan orang utan mengenakan masker tergantung di dinding Galeri Paviliun, House of Sampoerna, Surabaya. Tubuhnya terlihat keluar dari kotak kecil berpanorama hutan. Di luarnya, ada sisi abu-abu dengan ranting-ranting yang mengering dan sulutan api membara.

”Sisi abu-abu ini melambangkan waktu. Warna abu-abu kan warna milenium,” ucap Agus Salim, sang pelukis.

Lukisan berjudul Polusi itu berusaha menggelitik pengunjung mengenai fenomena kebakaran hutan di Kalimantan. ”Jadi, jangan hanya bahas ISPA di manusia. Hewan juga kena akibatnya,” jawabnya. Lukisan itu adalah 1 di antara 25 karya dari empat seniman asal Jawa Timur. Bertajuk Equilibrium, pameran tersebut dibuka Kamis malam (17/1) hingga 9 Februari nanti.

Selaku kurator, Muhammad Rahman Athian melihat bagaimana empat seniman asal Jawa Timur yang hadir berproses menampilkan jati diri mereka dalam karya. ”Seniman mencoba menyaring gejolak diri mereka melalui norma dan nilai yang berlaku,” ucapnya.

Agus menghadirkan enam karya bertema alam. Sisi abu-abu di pinggir lukisan jadi ciri khas dalam lima karya Agus. Lukisannya tak selalu pesimistis. Sebagaimana lukisan berjudul Persembahan untuk Bumi. Telapak tangan penuh tanah terlihat siap menaburkan bibit tana man ke tanah gersang. Kali ini sisi abu-abu dipenuhi siluet pepoho nan rindang.

”Kita kalau mau memulai perubahan ya kecil-kecil dulu. Diri sendiri,” ujar pria yang hobi menjelajahi bukit tersebut. Dalam karyanya yang lain, Agus juga bercerita tentang alih fungsi hutan, pencemaran air, dan ajakan menikmati alam.

Karya dengan nuansa yang berbeda turut dihadirkan Edie Supriyanto. Empat buah panel kanvas kecil saling dikaitkan hingga membuat lukisan yang lebih besar. Sekilas latarnya dipenuhi barang beragam warna. Empat orang di setiap panel punya gaya sendiri. Ada yang terduduk, berdiri, dan merunduk. Edie menyampaikan kerisauannya atas masa depan.

”Kita selalu punya bayangan tentang sesuatu. Lha padahal belum kejadian,” ucap pria asal Banyuwangi tersebut.

Lukisan menari di atas bayangan itu mengajak pengunjung untuk menikmati kerisauan sendiri. ”Ya udah enjoy aja,” imbuhnya.

Pameran tersebut turut menampilkan karya-karya Catur Hengki Koesworo dan Zainul Qusta. Catur berusaha menampilkan fenomena yang tengah terjadi dalam simbol-simbol. Sementara itu, Qusta menampilkan karyanya yang beraliran abstrak. (dya/c25/tia)

You Might Also Like