Puluhan penari berpakaian adat nusantara, menari dan menyampaikan pesan kebangsaan, di Betang Hapakat, Jalan RTA Milono, Palangka Raya, Sabtu (19/1). (FOTO AGUS PRAMONO / KALTENG POS)


Banyak cara menyampaikan pesan dan ajakan untuk orang lain. Ada yang mengucapkan secara langsung, ada juga yang mengekspresikannya melalui kesenian. Seperti penggiat seni dari Kalteng, menekankan pentingnya toleransi dan kebersamaan melalui tari.

 

HERMAWAN DP, Palangka Raya

============-===========-==

SUARA musik berdentang merdu. Puluhan orang mengenakan berbagai macam pakaian adat nusantara, naik ke atas panggung, membentuk formasi tarian.

Aksi dimulai oleh sepasang lelaki dan perampuan dengan pakaian adat Dayak bergerak gemulai dan memberikan salam pembuka.

Diikuti penari lain, berpakaian adat yang wakili daerahnya masing-masing. Mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Papua, Kalimantan. Semuanya kompak menari. Mengisyaratkan pentingnya kebersamaan.

Penari berpakaian adat nusantara itu turun.

Tak lama setelah itu, naik delapan penari perempuan mengenakan pakaian serba putih. Melenggak lenggok mengikuti irama musik yang syahdu. Hampir lima menit, naik lima anak kecil dengan wajah tampak sedih.

Anak-anak ini kemudian disusul lima orang bertopeng dan berpakaian putih. Seorang laki laki dengan rambut terurai, empat perempuan yang sama mengenakan aksesoris serba putih, menghibur dan menenangkan anak-anak itu.

Saat anak-anak sudah mulai ceria, semua penari kembali naik ke panggung dengan lincah, diriingi puisi kebangsaan, bercerita kebersamanan dan tentang NKRI. Mereka menari bersama, sungguh indah. Puisi yang diiringi alunan musik dan semilir angin di siang hari, menambah suasana semakin khidmat.

Meski waktu menunjukkan pukul 12.15 WIB, panasnya terik matahari tertutup sejuknya hati melihat pesan kebersamaan yang disampaikan para penari. Mereka menyatukan diri di tengah perbedaan. Membentuk formasi yang cantik dan indah, diriingi alunan musik dan puisi kebangsaan yang membuat suasana semakin hanyut.

Di tengah pertunjukan, tiba tiba turun tiga orang penari ke tanah lapangan di depan panggung. Sontak, penonton tertegun. Di tengah terik mentari ia tetap semangat menari. Disusul anggota TNI - Polri membawa bendera merah putih dan obor dibalut merah putih kecil.

Tarian ditutup dengan lagu Berkibarlah Benderaku yang diaransemen ulang. Peluh keringat para penari terbayar dengan tepuk tangan masyarakat yang datang, termasuk para pejabat dan tamu very important person (VIP) seperti pejabat dan tokoh nasional, Mahfud MD.

Menjelaskan soal tarian, Koreografer Tari Kebangsaan, Tris Sofia mengatakan seni tari yang ditampilkan merupakan gabungan dari tujuh sanggar seni yang ada di Kota Palangka Raya. Mulai dari Sanggar Seni Betang Batarung, Marajaki, Sanggar Tutuwuri Handayani, Riak Renteng Tingang, Antang Batuah, Igal Juei, dan Lunuk Ramba.

Dikatakannya, secara umum tarian yang ditampilkan menggambarkan keanekaragaman Indonesia, dengan berbagai perbedaan dari Sabang sampai Merauke. Perbedaan ini harus disikapi dengan toleransi. Menciptakan Indonesia dengan pedoman Bhinneka Tunggal Ika.

“Tarian ini menggambarkan bagaimana bersosial dan menjaga alam. Di sana juga diceritakan terkadang juga ada konflik,” tutur empunya Sanggar Tari Betang Batarung ini.

Konflik ini, lanjut dia, menyebabkan alam rusak begitu juga hubungan sosial antar sesama manusia. Semua konflik ini akhirnya berdampak juga ke generasi penerus. Membuat anak-anak yang diibaratkan dengan penari kecil polos berbaju putih itu terdidik dengan konflik, sehingga ikut-ikutan tidak bisa menjaga dan semakin membuat parah keadaan.

“Ini kami disampaikan untuk menjadi renungan masing-masing orang. Termasuk juga para pemangku kepentingan yang juga harus mempertimbangkan kemungkinan konflik sebelum mengambil keputusan,” tutur dia.

Selain itu, dia juga ingin menekankan pentingnya sikap toleransi antar suku dan umat beragama. Dia yakin melalui toleransi secara tidak langsung akan mendorong masyarakat lebih mencintai kebersamaan.

Tarian tersebut, juga menyelipkan pentingnya untuk menjaga hubungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Penari berbaju putih menggambarkan jiwa manusia yang harus putih bersih. Penari bertopeng menggambarkan cinta kasih Tuhan yang memberikan semangat dan pencerahan terhadap anak-anak. Mengajak anak-anak untuk tidak sampai jatuh dan sakit, mendorong mereka dengan semangat perubahan dan toleransi kebersamaan.

“Pesannya, anak-anak harus dibekali dengan ilmu rohani. Karena tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dan hal-hal yang tidak baik,” tutupnya sembari tersenyum. (*)

You Might Also Like