Usaha Penerbangan dan Koleganya

 Sabtu, Tanggal 19-01-2019, jam 10:43:13
Bhayu Rhama PhD

BULAN Desember yang merupakan musim sibuk masyarakat untuk melakukan perjalanan dan juga musim kerja bagi para pelaku usaha biro perjalanan wisata telah dilewati. Pada umumnya, biaya perjalanan akan menurun seiring dengan berakhirnya musim perjalanan di Bulan Desember. Namun demikian, salah satu komponen wisata yaitu tiket perjalanan dengan pesawat udara masih bertengger kokoh mendekati tarif batas atas (baca: mahal). Hal ini pada akhirnya menjadi perhatian publik, mulai dari munculnya surat terbuka dari konsumen penerbangan yang menyampaikan tiket mahal sampai munculnya petisi di change.org yang meminta agar pemerintah turun tangan untuk mengatasi kondisi yang ada.

Tidak hanya itu, beberapa maskapai penerbangan justru mulai menghilangkan pemberian bagasi gratis dan mengurangi  kerjasama dengan Biro/Agen Perjalanan Wisata (B/APW) yang menjadi anggota ASITA (Association of Indonesian Tours & Travel Agencies) dengan cara menghilangkan komisi penjualan yang dilakukan.

Tindakan pelaku usaha penerbangan / maskapai penerbangan ini disinyalir karena tingginya operasional dan resiko yang ada sehingga perlu kiranya tindakan di atas dilakukan. Tentu saja dari perspektif pemilik ‘produk’ (maskapai penerbangan), tindakan untuk menaikkan harga, menghilangkan bagasi bahkan mengurangi komisi travel agen adalah salah satu cara untuk bertahan dan mendapatkan profit. Namun tindakan ini dinilai tidak konsisten dilakukan oleh manajemen usaha penerbangan. Sebagai contoh, maskapai penerbangan disatu sisi menurunkan komisi B/APW tetapi disisi yang lain memberikan diskon (bentuk lain komisi) besar kepada pelanggan langsung (misal kepada pelanggan corporate) dan memberikan insentif kepada Online Travel Agent (OTA) yang dapat melakukan deposit milyaran sebagai pembayaran tiket kepada maskapai.

Memang benar adanya ketika sebuah ungkapan menyatakan bahwa bisnis tidak mengenal toleransi. Akan tetapi, bisnis yang dilakukan antara maskapai penerbangan dan travel agen anggota ASITA bukanlah bisnis korporasi dengan saluran distribusinya yang bisa datang dan pergi atau on off sesuai kebutuhan korporasi. Apalagi untuk membentuk kolaboratif kepariwisataan di Indonesia yang telah menjadi salah satu sektor prioritas pembangunan.

Hubungan antara maskapai penerbangan dan ASITA sebagai mitra resmi pemerintah dalam bidang pariwisata (anggotanya mayoritas Usaha Micro, Kecil dan Menengah) yang sudah berusia 48 tahun tentu memiliki roh yang berbeda karena keduanya memiliki tujuan untuk memajukan pariwisata di Indonesia. Apalagi secara khusus untuk maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang memiliki misi (bisa dilihat dari Annual Report Garuda 2015) sebagai perusahaan penerbangan pembawa bendera bangsa (flag carrier) Indonesia yang mempromosikan Indonesia kepada dunia guna menunjang pembangunan ekonomi nasional dengan memberikan layanan yang professional. Misi tersebut sejalan dengan misi ASITA yaitu meningkatkan peran anggota sebagai salah satu pelaku utama pariwisata nasional, penghasil devisa dan peningkatan pendapatan serta pengembangan kapasitas usaha berdaya saing global. Oleh karena itu dapat dilihat secara implisit bahwa maskapai penerbangan Indonesia dan ASITA memiliki kepentingan yang sama untuk pariwisata di Indonesia.

Tentu diharapkan bahwa maskapai penerbangan di Indonesia bersama semua elemen pembangun pariwisata yang tergambar dalam model pentahelix yaitu pemerintah,swasta, akademisi, masyarakat dan media dapat duduk bersama untuk melakukan negosisasi secara mendetail. Kebijakan-kebijakan sepihak yang dilakukan pelaku usaha penerbangan di atas tidak membantu pembangunan pariwisata domestik karena secara implisit akan menurunkan minat bepergian wisatawan nusantara yang disebabkan mahalnya harga tiket pesawat dan juga membuat pelaku usaha cindera mata mengalami penurunan omzet karena adanya penghapusan bagasi (Perlu dicatat bahwa budaya wisatawan nusantara yang membeli oleh-oleh untuk sanak keluarga jarang dimiliki oleh wisatawan asing).

Gonjang-ganjing dunia penerbangan ini akan menghambat kemajuan pariwisata bila semua pihak terkait tidak segera duduk bersama dan menyelesaikannya, bahkan akan ada pihak lain (baca: negara lain) yang gembira melihat lemahnya sinergi stakeholder pariwisata di Indonesia dan menyambut baik wisatawan Indonesia yang sekedar transit di negara lain untuk mendapatkan tiket murah ke Jakarta (baca TribunNews.com, 2017).

Kerugian lemahnya komunikasi ini akan dirasakan secara nasional, bahkan internasional, dan tidak tepat lagi rasanya menunjukkan siapa yang lebih kuat karena semua saling membutuhkan. Maskapai penerbangan memerlukan koleganya untuk berhasil. Maskapai penerbangan bagaikan ‘bunga’ dan ASITA seperti halnya konsumen bagaikan ‘kawanan lebah’ yang membantu penyerbukan ‘Bunga’ yang dapat memberikan warna indah bagi pariwisata di Indonesia. Dengan demikian perlu kiranya segala keputusan yang diambil oleh salah satu pihak dibicarakan bersama dengan kepala dingin demi pariwisata Indonesia yang lebih baik. Salam Pariwisata Indonesia! (*)

(Penulis adalah Ketua ASITA Kalimantan Tengah - Akademisi FISIP Universitas Palangka Raya)

Berita Terkait