Sunawi menunjukkan foto putri semata wayangnya di kediamannya, Jalan Murjani, Palangka Raya, Jumat (18/1). (DANANG/KALTENG POS)


Sunawi tinggal sebatang kara pada sebuah kontrakan kayu di Jalan Murjani, Kelurahan Pahandut. Istrinya pergi entah ke mana. Ia ditinggal seorang sendiri. Penyakit yang telah lama menggerogotinya, melengkapi penderitaan kakek 76 tahun tersebut.  

DANANG RISTIANTORO, Palangka Raya

AWAN hitam menghiasi langkit Palangka Raya, Jumat pagi (18/1). Meski cuaca yang kurang bersahabat, tak menyurutkan niat saya (penulis) untuk berangkat menuju rumah Sunawi di Jalan Murjani. Tak berapa lama, rintik hujan mulai membasahi jalan. Perjalanan melewati gang yang cukup sempit. Hanya bisa dilalui oleh satu kendaraan. Tampak rumah yang terbuat dari kayu berderet. Di sebuah kontrakan itulah kakek Sunawi tinggal.

Tatkala tiba, sudah banyak orang yang berkerumun. Mereka adalah pegawai Dinas Kesehatan (Diskes) Palangka Raya, petugas dari Puskesmas Pahandut, tim relawan ERP, HCP, dan Komunitas Onthel. Bukanlah suatu kebetulan berkumpul, akan tetapi dikarenakan rasa prihatin yang sama akan kondisi sang kakek, Sunawi.

Penulis dan beberapa petugas kesehatan masuk ke dalam rumah. Tatapan mata saya menelusuri seisi ruangan itu. Mengamati kondisi hunian sang kakek. Dinding kontrakan hanya ditempel menggunakan plastik dan spanduk bekas. Di ruangan yang tak begitu luas itu, terdapat kursi roda. Adsa pula tongkat penyangga tubuh. Selain itu, ada peralatan masak, persis di samping kasur  tempatnya beristirahat. Ada satu meja makan, tampak seadanya.

Pak Sunawi tampak berbaring dalam posisi miring. Kondisinya lemah. Hanya berselimutkan kain sarung. Berbagai macam obat tepat berada di samping bantal. Di sana terlihat ada sebuah foto. Ya, foto putrinya. Foto tersebut selalu diletakkannya di sebelah kiri bantal tidurnya.

Petugas medis dari Puskesmas Pahandut duduk di samping kakek Sunawi. Mengamati hasil rontgen dan catatan hasil pemeriksaan dokter di RSUD dr Doris Sylvanus.

“Awalnya bapak ini ke puskesmas minta rujukan untuk berobat ke RSUD Doris,” jelaskan sambil memegang catatan hasil pemeriksaan.

“Kai (kakek), mananya yang sakit, punggungnya ya?” tanyanya kepada sang kakek.

Berdasarkan hasil rontgen RSUD dr Doris Sylvanus, kakek Sunawi mengalami komplikasi. Ia didiagnosa mengalami keropos tulang belakang (osteoporosis), hernia, penyempitan tulang belakang, serta gejala stroke. Menurut hasil pemeriksaan tim medis, pelumas untuk tulang sang kakek sudah habis, karena faktor usia. Itulah yang membuat sang kakek mengeluhkan sakit pada punggung.

"Dulu saya sering kerja berat demi anak dan istri. Pernah kerja jadi penambang emas di Parenggean," kisah sang kakek menanggapi pertanyaan petugas medis puskesmas.

Dia menceritakan, awal kadatangan ke Kalimantan yakni tahun 1982. Pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan yakni di Sampit. Kemudian ia bekerja di tambang yang berlokasi di  Parenggean. Lalu, pindah bekerja di daerah Pujon. Saat bekerja di Pujon itulah ia mengalami sakit paru-paru. Karena itu, ia berobat ke Palangka Raya. Meski dalam  masa-masa pengobatan, dia masih berjuang mengais rezeki di depan sebuah toko emas yang berada di kawasan Pasar Besar Palangka Raya.

“Kerja di tambang emas saat masih harga Rp7.000. Karena sakit paru-paru, kemudian saya berobat ke Palangka Raya. Saya sebenarnya tidak mau merepotkan orang lain seperti ini. Saya itu orangnya tidak mau yang duduk-duduk santai. Dulu waktu masih sehat, saya kerja bangunan, buat wc. Kalau nganggur, saya membuat kandang burung,” jelasnya.

Menurut relawan Human Community Palangkaraya (HCP), awal bergerak pada 2017, komunitas itu menemukan kakek Sunawi tidur beralaskan kardus. Tidak ada perlengkapan memasak, kasur, dan lainnya. Kemudian anggota komunitas berinisiatif mengumpulkan dana. HCP gotong royong untuk membeli perlengkapan masak dan kasur.  

Kakek Sunawi punya mimpi kecil. Ia ingin pulang ke kampung halamannya di Semarang. Walaupun nanti di Semarang tak punya tempat tinggal, kakek Sunawi minta tolong untulk dititipkan di panti jompo yang dekat dengan panti asuhan anaknya.

“Saat ini kami berasama tim ERP,HCP, Dinkes, dan lurah sedang mencari jalan/cara untuk memulangkan beliau. Jadi nanti kami saling bekerja sama dengan ibu lurah, Dinsos, dan Dinkes untuk mencari informasi di Semarang. Kami akan  menggalang dana untuk pemulangannya, agar sang kakek bisa tinggal berdekatan dengan putri kesayangannya, " ucap salah satu petugas bernama Vivi.

Vivi menjelaskan, putri sang kakek saat ini berusia 10 tahun. Uang hasil kerjanya dikirimkan untuk anaknya. Sunawi tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. “Tahun 2017 lalu kami berkomunikasi dengan pihak pemilik panti, meminta anaknya untuk dibawa kemari. Sebab, ada orang yang ingin membiayainya. Saat itu pihak panti meminta segala persyaratan yang mesti dilengkapi. Sudah kita penuhi, namun pihak panti meminta lebih. Artinya, tidak mau melepas,” ujarnya. (*/ce) 

You Might Also Like