Berbincang dengan Misy, Penjual Obat Tradisional di Pasar Kahayan

Obat Diracik Sendiri, Pemesan dari Pulau Jawa dan Bali

 Jum`at, Tanggal 18-01-2019, jam 07:17:05
Misy sedang menyisir bawang dayak di stan penjulannya di Pasar Kahayan, Kamis (17/1). (ANISA/KALTENG POS)

Obat tradisional khas Dayak memang terkenal khasiatnya. Misy, menjadi salah satu yang memasarkan berbagai macam ramuan khas dayak di kawasan Pasar Kahayan, Palangka Raya. Bagaimana ia menggeluti usaha ramuan obat tradisional itu? Berikut ulasannya.

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

TERIK mentari dari langit Kota Palangka Raya terasa begitu menyengat siang itu, Kamis (17/1). Saya (penulis) berkeliling Pasar Kahayan Palangka Raya, sekadar melihat-lihat pedagang obat tradisional. Banyaknya pedagang obat tradisional yang setiap hari menghiasi stan toko di pinggiran pasar itu, bukanlah hal yang baru.

Terutama penjual bawang Dayak. Tentu menjadi sorotan pertama. Warna merah yang mencolok dengan beberapa dauh hijau yang menghias di atasnya, menjadi perhatian pertama sebelum melirik berbagai jenis obat tradisional lainnya.

Situasi pasar siang itu tampak sepi pembeli, meski terlihat beberapa orang sedang menawar atau sekadar bertanya khasiatnya. Penjual yang berjejer di situ didominasi perempuan paruh baya. Ada yang menunggu pelanggan, ada pula yang sedang sibuk menyisir bawang dayak. Salah satunya Misy, pemilik stan obat tradisional Saluang Belum.

Ketika saya mendekat, senyum semringah terpancar dari bibirnya. Menawarkan beberapa macam obat tradisional di pelataran toko yang dijejernya rapi itu. Saking banyaknya, saya tak bisa mengingat satu per satu yang disebutkannya. Beberapa yang teringat antara lain bawang dayak, akar kuning, kunyit putih, saluang belum, pasak bumi, dan beberapa lainnya.

“Cari apa mbak? Racikan obat, minyak, atau bedak dingin,” tuturnya menawarkan dagangannya.

Perempuan berkulit cerah ini seketika bangun dari duduknya, tatkala saya menunjuk salah satu racikan obat tradisional yang memiliki beberapa macam khasiat itu. Dalam kemasan itu bertuliskan; obat tradisional 41 macam.

Dijelaskan Misy, obat itu dibuat dari 41 macam bahan tradisiona,l seperti daun, kayu, dan akar yang diambil dari hutan Kalteng. Saya tak mampu mengingat apa saja nama bahan tradisional itu. Tapi yang pasti ada 41 khasiatnya.

“Ini (memperlihatkan produk, red) mampu menyembuhkan penyakit diabetes, ginjal, tumor, dan masih banyak penyakit lainnya,” ucap perempuan yang lahir pada 24 Juni 1970 ini.

Mendengar itu, saya pun tertarik untuk berbincang-bincang dengan penjual obat tradisional yang menggeluti usahanya ini sejak 25 tahun yang lalu. Dijelaskannya, dirinya yang meracik sendiri obat-obatan tradisional yang dijualnya. Pasalnya, dia mampu meracik obat tradisional itu berdasarkan pengetahuan dari nenek moyangnya.

“Saya sudah 25 tahun menjual obat Dayak. Sejak dari menjadi pedagang kaki lima. Pengetahuan ini saya peroleh dari nenek moyang yang diturunkan kepada saya beberapa tahun lalu,” ucapnya saat dibincangi di tokonya, kemarin.

Dijelaskannya, ia memperoleh beberapa bahan tradisional itu dari warga kampung di beberapa wilayah di Kalteng. Pasalnya, ia memesan kepada warga yang mampu mencari bahan di hutan Kalteng ini, seperti kayu, akar, daun, dan lainnya yang bisa diramu menjadi obat berkhasiat.

“Ada beberapa yang saya pesan dari warga kampung. Ada pula sebagian yang mengantar ke sini,” kata perempuan 49 tahun ini.

Diakuinya, obat yang diraciknya dengan berbekal pengetahuan nenek moyang itu, mendapat respons sangat baik, tidak hanya masyarakat Kalteng saja, bahkan dari orang luar Kalteng, seperti dari Pulau Jawa dan Bali..

“Peminatnya tidak hanya Kalteng. Ada orang luar yang datang dan akhirnya minta kirimkan,” katanya.

Bahkan, sambung dia, ada pelanggan yang menghubungi dan mengucapkan terima kasih, lantaran anaknya sembuh dari penyakit kanker berkat ramuan bawang dayak. Sakit yang sudah bertahun-tahun diderita, sembuh setelah meminum ramuan bawang dayak.

“Saya kaget waktu ada yang menghubungi saya dan mengucapkan terima kasih. Katanya anaknya sembuh dari penyakit lantaran mengonsumsi ramuan bawang dayak yang dibeli dari saya,” ceritanya dengan penuh semangat.

Diakuinya, sembari menjual racikannya itu, ia pun berdoa agar penyakit yang dialami pelangganya lekas sembuh. Meskipun, tambahnya, kadangkala ada pelanggan yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli. Dengan rela hati diberikan keringanan harga.

“Sering saya memberikan keringanan harga, jika memang benar-benar orang yang berkekurangan. Apalagi yang saya jual ini kan untuk orang sakit. Jadi alangkah baiknya jika membantu,” kata perempuan beranak empat ini.

Ia pun mengakui bahwa hasil penjulan tak seberapa. Karena memang susah dalam pemasarannya. Ia hanya menerima untung paling banyak Rp10 ribu per produknya. Dikatakannya, Saat-saat tertentu, pembeli banyak, bisa sampai 10 orang. Tetapi jika sepi, hanya dua atau tiga orang saja pembeli.

“Memang kesulitan kami pada pemasaran. Obat ini belum memiliki label BPOM. Karena itu, kami belum berani memasarkan ke luar daerah. Kecuali ada yang memesan dan untuk oleh-oleh yang dibawa. Saya pun bahagia mendengar berita pada koran, katanya obat tradisional akan mendapat label BPOM,” kisahnya.

Selama ini, selain di stan tokonya, ia bersama sang suami Ahmad Markus menjajakan obat ramuannya itu ke beberapa pasar, sekolah, dan toko di wilayah Kalteng.

Besar harapannya, dengan adanya bantuan pemerintah untuk pemberian label BPOM, bisa membantunya untuk mampu mempromosikan produk obat tradisional racikannya. Bahkan ia sangat bahagia jika produknya bisa diekspor.

“Selain itu, kami juga masih membutuhkan alat mengolah bawang dayak menjadi serbuk jamu. Sebab, selama ini proses pengolahannya, ya dengan cara ditumbuk saja,” pungkasnya. (*/ce/ala/ctk)

Berita Terkait