Oleh : Bitasari Pascalisa


BANGSA Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai zona maritim yang sangat luas, dimana lebih dari 60 persen wilayahnya merupakan wilayah perairan. Nurmalasari dalam Baransano (2011) menyebutkan, sumber daya perairan berperan penting bagi pembangunan Indonesia. Sumber daya pesisir dan kelautan merupakan potensi penting pembangunan di masa depan. Luas wilayah laut Indonesia adalah 62 persen dari wilayah nasional, belum termasuk zona ekonomi eksklusif seluas 2.7 juta kilometer persegi. Indonesia sudah memiliki modal yang cukup besar untuk menjadi negara maritim yang tangguh dan digdaya.

Dengan potensi bahari seperti ini, apakah Indonesia mampu menjadi bangsa yang berdaulat pangan dan negara bahari yang berprestasi?

Dengan modal tersebut, Indonesia memiliki tantangan untuk melestarikan dan menggunakan samudera, lautan serta sumber daya laut secara berkelanjutan untuk pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut tertuang dalam salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan agenda pembangunan dunia yang bertujuan untuk kesejahteraan manusiadan planet bumi. SDGs  diterbitkan secara resmi pada tanggal 21 Oktober 2015 dan disepakati sebagai tujuan pembangunan bersama sampai tahun 2030 oleh berbagainegara yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).Sejalan dengan SDGs, Indonesia saat ini juga tengah mewujudkan agenda prioritas nasional untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian.

 

POTENSI PERIKANAN

Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari laut memiliki potensi perikanan yang sangat besar dan beragam. Hal tersebut dimanifestasikan ke dalam 9 poin Nawa Cita, dimana poin Nawa Cita pertama adalah menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif,keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negaraTri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan Nasional dan memperkuat jadi diri sebagai Negara Maritim.

Data BPS menyebutkan bahwa distribusi PDB harga belaku menurut sektor perikanan, memberikan share sebesar 2,09 persen terhadap PDB Nasional pada tahun 2010. Share sektor perikanan tersebut cenderung meningkat sampai tahun 2017. Pada tahun 2014, sektor perikanan memberikan share sebesar 2,32 persenterhadap PDB Nasional. Angka ini perlahan tapi pasti terus meningkat dan pada tahun 2017 memberikan share sebesar 2,57 persen terhadap PDB Nasional. Pada tahun yang sama, sektor perikanan memberikan share sebesar 19,5 persen terrhadap share PDB Indonesia untuk Lapangan Usaha Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. Dalam lingkup Kalteng sendiri, sektor perikanan memberikan share sebesar 2,48 persen pada tahun 2010 terhadap PDB Kalteng.  Angka ini terus berfuktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011 mengalami peningkatan mencapai 2,62 persen dan kemudian berfuktuatif hingga  tahun 2016 memberikan share sebesar 2,46 dan tahun 2017 sebesar 2,3 persen terhadap PDB Kalteng. Pada tahun yang sama, sektor perikanan memberikan share sebesar 13,27 persen terhadap share PDB Kalteng Lapangan Usaha Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.

Dari sisi yang berbeda, BPS menyebutkan rata-rata konsumsi per kapita dalam satu minggu masyarakat Indonesia untuk bahan makanan ikan dan udang segar sebesar 0,26 kilogram pada tahun 2007. Ikan dan udang segar disini meliputi ikan darat, laut, dan udang. Konsumsi ikan ini lebih besar daripada konsumsi daging sapi/kerbau yaitu 0,008 kg dan daging ayam ras/kampung yaitu 0,079 kg per kapita selama seminggu pada tahun yang sama. Angka tersebut terus meningkat hingga pada tahun 2010 mencapai 0,271 kilogram perkapita seminggu dan pada tahun 2017 mencapai 0,326 kilogram. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat konsumsi ikan dan udang segar masyarakat Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

 

SAMPAH DAN LIMBAH

Ikan dan udang segar sebagai sumber protein hewani, merupakan sumber protein terbesar dibandingkan telur dan susu serta daging. Dengan jumlah kalori yang dihasilkan lebih rendah daripada telur dan susu serta daging (3,59 persen dan 5,85 persen) yaitu 3,08 persen. Akan tetapi nilai protein yang terkandung di dalam ikan atau udang segar jauh melebihi telur dan susu (6,51persen) dan daging (11,64 persen) yaitu sebesar 17,39persen. Artinya ikan dan udang segar memiliki nilai gizi yang sangat baik bagi manusia, terlebih anak-anak dalam masa tumbuh kembangnya.

Pertanyaan selanjutnya, apakah keadaan lautan Indonesia baik-baik saja. Indonesia tidak bisa menutup mata pada masalah polusi lautan. Melansir dari The Jakarta Post yang diterbitkan melalui media surat kabar elektronik pada 6 November 2015 menyebutkan Indonesia is second biggest marine polutant, after China. Adalah penelitian yang dipimpin oleh Jenna Jambeck dari University of Georgia dan dipublikasikan pada tahun 2015 menyebutkan bahwa Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia, dimana berat sampah plastik yang disumbang mencapai 3,2 juta ton sampah plastik yang dibuang ke laut setiap tahun . Angka ini di bawah China dengan volume sampah mencapai 8,8  juta ton. Para peneliti mengatakan bahwa mungkin masih ada lebih banyak lagi limbah di lautan, karena diperkirakan bahwa orang yang tinggal di sekitar 50 kilometer dari pantai menghasilkan sekitar 275 juta ton plastik pada tahun 2010, dan sekitar 4.8 hingga 12.7 juta ton yang berakhir di lautan.

Statistik Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2017 yang diterbitkan oleh BPS, menyebutkan peningkatan limbah padat dapat disebabkan oleh pertumbuhan penduduk, perkembangan industri, urbanisasi, dan modernisasi.

Hal utama penyebab peningkatan limbah padat yaitu jumlah penduduk yang semakin banyak. Meningkatnya jumlah sampah yang dihasilkan rumah tangga berkorelasi positif denganjumlah penduduk. Itulah sebabnya masalah pengelolaan sampah terutama dihadapi olData eh kota-kota besar yang padat penduduknya. Diperkirakan setiap rumah tangga/ penduduk di Indonesia dapat menghasilkan sampah sebanyak 0,52 kg/jiwa/hari (Jenna R. Jambeck, et al (2015)).

Dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai 258.7 juta jiwa dapat dibayangkan pula jumlah sampah yang dihasilkan oleh penduduk Indonesia. Data BPS menyebutkan, kota Palangka Raya sebagai ibukota Kalteng diperkirakan menghasilkan perkiraan produksi sampah per hari sebesar 746 meter kubik pada tahun 2015, dan meningkat pada tahun 2016 sejumlah 800 meter kubik. Sedangkan volume sampah yang  terangkut per hari pada tahun yang bersesuaian ialah 421 dan 425 meter kubik. Artinya persentase sampah yang dapat tertanggulangi setiap harinya sebesar 56,43persen pada tahun 2015 dan 53,13persen pada tahun 2016. Produksi sampah yang tinggi apabila tidak disertai dengan pengelolaan yang baik akan menimbulkan pencemaran.

Data Susenas 2014 menunjukkan 51,08persen masyarakat perkotaan dan 88,55 persen masyarakat perdesaan memperlakukan sampah dengan membakar. 11,5persen masyarakat perkotaan dan 31,31persen masayarakat perdesaan membuang sampah sembarangan. 8,1persen masayarakat perkotaan dan 14,9persen masyarakat perdesaan membuang sampah ke laut/sungai/got. Pengelolaan sampah modern termasuk upaya 3R yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang sampah) dan juga 5R yakni Replace (mengganti) dan Replant (menanam kembali), dengan penerapan hal ini diharapkan jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dapat diminimalisir (Cunningham, 2004). Dari data Susenas 2014 masih sangat sedikit masyarakat yang menerapkan 3R atau 5R, yaitu mendaur ulang 0,19 persen, dimanfaatkan sebagai kompos/pupuk sebesar 0,53persen, dai arti sn dimanfaatkan untuk makanan hewan yaitu 0,26 persen.

 

ANCAMAN LIMBAH LAUT

Wilayah pesisir memiliki arti strategis karena merupakan wilayah perairan antara ekosistem darat dan laut, serta memiliki potensi sumber daya alam dan jasa lingkungan yang sangat kaya. Kekayaan sumber daya alam laut menimbulkan daya tarik untuk memanfaatkan sumber daya dan meregulasi oemanfaatannya. Kekayaan sumber daya pesisir, meliputi pulau besar dan kecil yang dikelilingi ekosistem pesisir tropis seperti hutan mangrove, terumbu karang, dll. Akan tetapi sumber daya tersebut saat ini sedangmengalami kerusakan. Fenomena degradasi biogeofisik sumber daya pasir semakin berkembang dan meluas.

Dahuri dalam Baransano (2011) menyebutkan berdasarkan faktor utama  yang mengencam kelesatarian sumber daya keanekaragaman hayati dan pesisir yaitu pemanfaatan berlebihan (over exploitation), penggunaan teknik dan peralatan penangkapan ikan yang merusak lingkungan, perubahan degradasi fisik habitat (konversi hutan mangrove untuk lahan tambak, pemukiman, pelabuhan, industri, dll), dan pencemaran yang berasal dari kegiatan manusia, baik limbah padat atau cair, introduksi spesies asing, konversi kawasan perlindungan laut. Masifnya pencurian ikan oleh kapal-kapal asing ditambah penangkapan ikan yang memakai alat tangkap tak ramah lingkungan bahkan cenderung merusak alam telah membuat sebagian besar kondisi perairan Indonesia dalam kondisi kritis.Beberapa Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia masuk kategori merah untuk sejumlah jenis ikan dan biota laut lainnya. Berdasarkan kajian UCSB dan Balitbang Kelautan dan Perikanan, jika eksploitasi berlebihan terus dibiarkan biomassa ikan di perairan nusantara akan anjlok hingga 81 persen pada tahun 2035 (Laut Masa Depan Bangsa, KKP RI 2017).

 

MELESTARIKAN LAUT

Sejatinya Indonesia memiliki potensi untuk meningkatkan sektor perikanan, seturut dengan program SDGs dan Nawacita. Terlebih dilihat dari nilai gizi yang sangat baik dan konsumsi yang terus meningkat. Nawacita berikut penekanan sebagai negara maritim sebagai jati diri bangsa, bukan lagi sekedar angan, tetapi menjadi kesadaran dan titik terang untuk menjadikan laut masa depan bangsa.

Caranya, dengan menjaga sumber daya kelautan dan perikanan agar tetap terjaga dan lestari, tetap melimpah memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia bahkan dunia (feed the nations) dengan cara yang benar, bukan dengan ilegal fishing.

Cara selanjutnya, ialah menghentikan pembangunan pesisir sungai, dengan tidak menambah lagi. Konversi hutan mangrove dan kawasan perlindungan laut.

Cara lainnya, untuk mememenuhi kebutuhan masyarakat akan ikan akan beberapa jenis ikan yang dapat dibudidayakan, yaitu dengan membudidayakan ikan tersebut. Perubahan dimulai dari dalam lingkup yang kecil ialah diri sendiri, yaitu menerapkan 3R salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik. Contohnya membawa botol minum kemanapun kita pergi sehingga mengurangi penggunaan botol minuman.

Dengan data yang ada, kita tidak hanya dapat memotret keberhasilan suatu bangsa. Dengan data kita juga melihat sebuah kejadian dari dua sisi yang berbeda. Seperti fenomena perikanan ini, dimana di satu sisi berpotensi untuk ditingkatkan, di satu sisi  masih banyak yang harus diperbaiki seperti komitmen dan bukti Indonesia dapat mengurangi sampah plasti di laut sampai 75 persen pada tahun 2025 dan pemeberantasan ilegal fishing yang jelas-jelas merugikan bangsa. Dengan data, kita membangun bangsa, memilih jalan terbaik untuk meningkatkan prestasi bangsa bahkan di mata dunia. Bukan hanya bagi masyarakat Indonesia, melainkan juga untuk keutuhan seluruh ciptaan di bumi pertiwi ini. Indonesia Bisa! (*)

(Penulis adalah ASN BPS Kabupaten Lamandau)

You Might Also Like