Endang Suroso, Penyandang Disabilitas yang Enggan Dikasihani

Masih Mengimpikan Jadi Atlet Panahan

 Selasa, Tanggal 04-12-2018, jam 06:13:06
Endang Suroso ketika menjalani hari-harinya, membuka warung kecil-kecilan dan marbot masjid, kemarin. (DENAR/KALTENG POS)

Berdiri dengan satu kaki, bukan menjadi hambatan untuk melanjalani kehidupan. Endang Suroso memilih untuk tidak mengeluh dan dikasihani.

 

ARNOLD MAKU, Palangka Raya

 

MENYANDANG status disabilitas bukanlah hal mudah. Dikucilkan menjadi hal yang biasa. Diremehkan. Kadang orang berpikir, dia bisa apa?

Bagi Endang Suroso, sudah cukup berjalan dengan satu kaki plus dibantu dengan kruk (penyangga kaki). Prinsipnya kuat. Haram bagi dirinya untuk hidup dari belas kasihan atau uluran tangan sesama.

"Saya tidak ingin dikasihani, tetapi (baiknya, red) diberdayakan," ucap pria 30 tahun itu mengawali perbincangan, kemarin (3/12).

Endang kehilangan kaki kanan sejak lahir. Meski dengan keterbatasan itu, Endang muda tetap gigih bersekolah. Mengasah keterampilannya. Sampai akhirnya dikirim Pemko Palangka Raya mengikuti kursus di Solo 2018 lalu. Ia pun lulus dari keterampilan menjahit dan juru ukir kayu.

Namun, ilmu yang didapatnya terasa sia-sia. Ketika kembali ke Palangka Raya, pemuda berusia 30 tahun itu tidak memiliki pekerjaan. Tidak ada modal untuk membuka usaha.

“Mungkin mereka sudah anggap kami mampu, sehingga setelah kursus tidak diperhatikan lagi,” ungkap pria kelahiran Kuala Kapuas ini.

Lantaran tak ada modal mengembangkan keterampilan menjahit dan mengukir kayu, Endang memutuskan untuk menjadi marbot masjid di bawah Jembatan Kahayan.

Ayah dari Amelia dan Riduan ini boleh dibilang pekerja keras. Mulai dari bangun pagi, lalu salat subuh. Setelah itu langsung membersihkan Taman Pasuk Kameloh. Usai salat Azar, ia mengurus  usaha kecilnya berjualan BBM di rumah.

Secara ekonomi, marbot masjid ini mengaku sudah cukup. Kesederhanaan sudah membuatnya mencapai kebahagiaan.

“Tidak ada lagi yang mau saya cari. Semuanya sudah membahagiakan saya. Dan saya juga sudah membahagiakan sesama. Rumah sudah punya. Istri, anak, sudah semua. Mungkin kalau berkaitan dengan hobi, memang sampai sekarang saya masih mengimpikan jadi atlet panahan,” ucapnya sambil tersenyum.

Meskipun demikian, sebagai seorang ayah, dirinya mengaku puas dan akan sangat berbahagia, jika kedua anaknya bisa mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga bisa memiliki pekerjaan yang baik.

“Saya tidak pernah berkecil hati. Saya ingin anak-anak saya sukses,” ucapnya optimistis, menutup perbincangan itu. (ce/ram/CTK)

Berita Terkait