Formula Kultur Edukatif

Oleh: Rusma Noortyani

 Jum`at, Tanggal 09-11-2018, jam 10:24:23
Ilustrasi pendidikan karakter. (foto: net)

PENDIDIKAN karakter terarah pada pengembangan kultur edukatif yang mengarahkan peserta didik untuk menjadi pribadi yang integral. Pendidikan karakter di sekolah harus dilakukan secara holistis. Pendidikan karakter tidak bisa terpisah dengan bentuk pendidikan sifatnya kognitif atau akademik. Konsep pendidikan tersebut harus diintegrasikan ke dalam kurikulum.

Hal ini tidak berarti bahwa pendidikan karakter diterapkan secara teoretis dan menjadi penguat kurikulum yang sudah ada, yaitu dengan mengimplementasikannya dalam mata pelajaran dan keseharian peserta didik.

Formula pendidikan karakter dapat menyertakan tiga basis desain dalam pemogramannya. Koesoema (2010) memberikan formula bahwa karakter harus menyertakan tiga basis desain dalam pemogramannya yakni 1) desain pendidikan berbasis kelas; 2) desain pendidikan berbasis kultur sekolah; dan 3) desain pendidikan berbasis komunitas. Desain ini memiliki konsep membangun kultur sekolah yang mampu membangun karakter peserta didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri peserta didik.

Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai kaidah emas (the golden rule). Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri (Sudrajad, 2010).

Salah satunya desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Pendidikan karakter terarah pada pengembangan kultur edukatif yang mengarahkan peserta didik untuk menjadi pribadi yang integral.

Berikut petunjuk desain untuk mengintegrasikan pendidikan karakter berbasis kultur sekolah ke dalam perencanaan dan pelaksanaan sekolah dan mengajar secara efektif: 1) pendidik adalah variabel yang sangat penting dalam mengajarkan materi etnik. Pendidik memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan. Apabila pedidik menghadapi materi rasis di dalam bahan pelajaran atau mengobservasi rasisme dalam pernyataan dan perilaku peserta didik. Pendidik dapat menggunakan situasi ini untuk mengajarkan pelajaran penting tentang pengalaman kelompok etnik tertentu; 2) pengetahuan tentang kelompok etnik diperlukan untuk mengajarkan materi etnik secara efektif. Hal ini dapat dilakukan dengan mensurvei sejarah dan budaya kelompok etnik, misalnya Buku Religi Orang Bukit: Suatu Lukisan Struktur dan Fungsi dalam Kehidupan Sosial Ekonomi (Haloei Noerid Radam), TesisFonologi Bahasa Dayak Meratus (Rusma Noortyani).

Disertasi Narasi Aruh Adat Perkawinan Masyarakat Dayak Maanyan (Rusma Noortyani); 3) kelas akan membawa citra positif tentang berbagai kelompok etnik. Pendidik dapat melakukan ini dengan menayangkan majalah dinding, poster, dan kalender yang memperlihatkan perbedaan rasial dan etnik dalam masyarakat; 4) gunakan buku, film, youtube, dan rekaman sebagai pelengkap buku teks dari kelompok etnik dan menyajikan perspektif kelompok etnik pada peserta didik; 5) berikan sentuhan warisan budaya dan etnik dengan berbagi kisah etnik dan budaya dengan peserta didik. Pendidik akan menciptakan iklim berbagi di kelas akan membantu memotivasi peserta didik mendalami akar budaya dan etnik dan akan menghasilkan pembelajaran yang berarti bagi peserta didik; 6) gunakan teknik belajar yang kooperatif dan kerja kelompok untuk meningkatkan integrasi ras dan etnik di sekolah dan di kelas. Penelitian menunjukkan bahwa jika kelompok belajar itu terintegrasi secara rasial, peserta didik mudah mengembangkan lebih banyak teman dari kelompok rasial yang lain, dan hubungan rasial di sekolah diperbaiki; dan 7) permainan sekolah, publikasi sekolah, kelompok informal dan formal yang lain terintegrasi secara rasial. Berbagai kelompok etnik dan rasial memiliki status yang sama di penampilan dan presentasi sekolah.

Pendidik harus bijaksana dalam pilihan dan dalam menggunakan materi pelajaran yang berkaitan dengan kultur. Semua ini dilakukan untuk lebih memajukan perkembangan serta keberhasilan anak, meningkatkan program pengajaran, meningkatkan mutu pendidikan. Desain pendidikan berbasis kultur sekolah ini harus diperkuat dengan pembuatan tata peraturan sekolah yang tegas dan konsisten terhadap setiap perilaku pembentuk karakter peserta didik. (hms/ami/ctk/nto)

(Penulis adalah Dosen FKIP ULM/Ketua Yayasan Nur Amalia)

Berita Terkait