Cegah Pernikahan Dini Untuk Menyambut Bonus Demografi Berkualitas

 Jum`at, Tanggal 09-11-2018, jam 09:10:36
Anggota Komisi IX DPR RI, Hang Ali Saputra Syah Pahan mengingatkan pentingnya pencegahan perkawinan usia dini, pada acara integrasi pemberdayaan keluarga yang dilaksanakan Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) di Desa Bajarum, Kecamatan Kotabesi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (7/11).

SAMPIT – Hingga saat ini, di Kalteng angka perkawinan usia dini atau dibawah umur, masih relatif tinggi. Terutama pada perempuan. Hal itu juga menjadi salah satu faktor pemicu tingginya angka perceraian.

“Fakta dan data yang kita lihat saat ini, kecenderungan angka perceraian pasangan muda suami-istri terus meningkat,” kata Anggota Komisi IX DPR RI, Hang Ali Saputra Syah Pahan, pada acara integrasi pemberdayaan keluarga yang dilaksanakan Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) di Desa Bajarum, Kecamatan Kotabesi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (7/11).

Kondisi ini, sebut Hang Ali, sudah semestinya mendapat perhatian semua pihak, baik mulai dari orangtua, masyarakat hingga pemerintah.

Pasalnya, imbuh dia, pada pernikahan usia dini atau kawin di bawah umur, selain melanggar undang-undang, secara fisik dan psikologis, pasangan bersangkutan juga belum matang akal pikiran, belum siap melakukan proses reproduksi, juga rentan pengendalian emosi karena cenderung masih labil.

“Inilah akhirnya nanti menjadi faktor pemicu untuk bercerai itu, karena ketidakdewasaan dalam mengadapi persoalan rumah tangga,” ujarnya.

Ditambahkan Hang Ali, pencegahan perkawinan usia muda ini mutlak harus dilakukan, selain mengingat dampak psikologis dan kesehatannya, juga dampak lain yang ditimbulkannya. Terlebih lagi, menyongsong bonus demografi yang akan dialami Indonesia pada 2030.

“Anak-anak remaja yang saat ini sudah menikah, seharusnya jadi populasi bangsa yang sangat produktif saat Indonesia memasuki bonus demografi tadi. Sebuah keuntungan besar suatu negara yang justru semestinya sudah mulai sekarang dipersiapkan, termasuk generasi muda sebagai penerus bangsa,” ujarnya.

Hal tersebut juga dipertegas Direktur Bina Kesertaan KB Jalur Wilayah dan Sasaran Khusus BKKBN pusat, Nerius Auparay.

Menurut Nerius, menikah di usia sangat muda sangat berpotensi membuat pasangan tidak siap secara psikis dan belum mampu menghadapi kemungkinan masalah-masalah yang akan terjadi selama membangun bahtera rumah tangga.

Selain itu, perkawinan yang terjadi di umur terlalu muda juga berdampak buruk bagi kesehatan sang mempelai wanita yang dapat memicu terjadinya gangguan kesehatan, seperti kanker mulut rahim, kematian ibu dan anak saat melahirkan, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Dia juga menegaskan, diperlukan suatu gerakan bersama dari semua pihak termasuk para tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk lebih menguatkan tujuan bimbingan pra nikah sebagai gerbang utama membangun suatu keluarga, salah satunya dengan banyak memberikan pemahaman dan wawasan meluas tentang makna sesungguhnya dari pernikahan.

“Karena memang menikah butuh banyak persiapan, tidak cukup hanya sekadar keinginan. Di sinilah bimbingan pra nikah menjadi penting. Setiap pasangan harus mengerti benar apa dan bagaimana kesiapan mereka baik sebagai istri atau suami serta nantinya kelak menjadi orang tua jika diberikan keturunan,” kata Nerius.

Integrasi Pemberdayaan Keluarga Bersama Mitra Kerja yang digelar BKKBN itu dihadiri 250 orang peserta yang merupakan kader posyandu, kader dan penyuluh KB serta masyarakat setempat.

Hadir pula sejumlah pejabat dari Perwakilan BKKBN Kalteng dan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Kotawaringin Timur. (pri/nto)

Berita Terkait