Menari Bersama Manekin dan Nekat Keliling Nusantara

Sekali Tampil Meraup Rp 700 Ribu

 Jum`at, Tanggal 09-11-2018, jam 06:23:39
Dengan dua boneka menemaninya menari di jalanan Palangka Raya, aksi Dayat viral di media sosial, beberapa hari belakangan. (RIDUAN/KALTENG POS)

Menari dengan manekin atau boneka manusia, terdengar biasa saja. Namun, pengamen yang menonjolkan aksinya bersama manekin, justru membawanya meraup banyak untung. Bonusnya, viral di media sosial.

 

 

M RIDUAN NOOR, Palangka Raya

=============-===========

 

PEMUDA 36 tahun itu bernama Dayat. Belakangan, ia dan dua temannya kerap terlihat di sejumlah jalanan di Kota Palangka Raya. Mengamen. Seorang teman menggendong sound system sederhana dan memutar lagu remix maupun house. Seorang temannya lagi, keliling mengantongi uang dari siapa saja yang memberinya.

Aksi Dayat saat menari, sekejap membuat semua orang terkesima. Hanya saja, lama-lama juga bosan karena tarian yang diperagakan Dayat ala kadarnya. Buah karya otodidak.

Akan tetapi, aksinya menjadi viral. Mencuat saat Dayat dan teman-temannya, diminta menemani kepolisian saat razia di JalanYos Sudarso, beberapa hari lalu.

“Saya tidak bisa menggunakan Hp Android, karena kurang mengerti. Saya tahunya viral setelah diberitahukan teman saya saja,” ucap Dayat ketika berbincang-bincang denganKalteng Pos.

Pria asal Desa Legok, Lohbener, Indramayu, Jawa Barat, mengaku awalnya kebingungan mencari pekerjaan. Akhirnya, setelah mencari inspirasi ke sana ke mari, ia mendapat inspirasi setelah melihat ayahnya sedang menjaga sawah, mengusir burung pipit menggunakan orang-orangan sawah.

Saat itu, katadia, orang-orangan sawah dibuat berjajar di tengah sawah, yang satu sama lainnya dikaitkan dengan tali. Sehingga, ketika ditarik, langsung bergerak semuanya.

“Kenapa saya terinspirasi dari orang-orangan sawah, karena pada saat bapak saya menarik tali yang ditarik ke orang-orangan sawah semuanya bergerak, padahal hanya satu tarikan dan akhirnya saya kombinasikan. Saya buat dua orang-orangan sawah dengan menggunakan bambu dan patung plastik untuk menemani saya menari,” ceritanya.

Setelah berhasil menguasai tarian yang dipelajari secara otodidak, dirinya memberanikan diri tampil ke pasar-pasar. Mengamen. Pertama kali tampil di Indramayu, menjadi pusat perhatian. Pada waktu itu meraup keuntungan sekitar Rp 700 ribu.

“Dengan melihat banyaknya peminat akhirnya saya lakukan terus dengan berpindah-pindah lokasi,” terangnya.

Karena jika di lokasi yang sama, orang akan bosan, oleh sebab itu dirinya dan empat temannya menyebrangi pulau Jawa ke Kalimantan Tengah. Untuk mengadu nasib dan rencananya akan terus berpindah-pindah.

Banyak suka duka dalam menampilkan aksi tersebut.

Dayat pernah mendapatkan teguran yang kurang berkenan di hati seorang laki-laki tua, karena pada saat tampil bersama manekin menggunakan jilbab.

“Memang maksudnya pada waktu itu baik, namun penyampaiannya yang salah. Tetap hal tersebut tidak masalah karena semua yang kita lakukan tidak selamanya benar,” jelasnya.

Dayat dan teman-teman berangkat naik kereta api melalui stasiun Jatibarang sampai Turi, Surabaya. Kemudian ke Pelabuhan Tanjung Perak. Menyeberang ke Pelabuhan Kumai, Kotawaringin Barat.

Sesampainya di sana, Dayat dan teman-teman langsung mentas di Natai Kerbau, Pangkalan Banteng.

Setelah mendapatkan duit, baru melanjutkan perjalanan menuju Kota Sampit. Langsung ke Palangka Raya.

Sempat ke Banjarmasin untuk mentas. Namun di sana banyak kawasan yang dijaga Satpol PP. “Kami sebentar saja tampil di sana, setelah mendapatkan uang untuk transportasi kami langsung geser dan kami ke Palangka Raya lagi untuk pentas di operasi zebra Talabang yang dilakukan oleh Polda Kalteng,” bebernya.

Pihaknya akan terus mengelilinggi nusantara.

“Kalau saya mas, keliling nusantara ini sambil cari lokasi untuk berdagang. Karena tidak mungkin saya bekerja ini terus, memang untungnya sangat banyak untuk mengamen ini. Tapi kasihan anak istri yang ada di kampung. Makanya cepat atau lambat saya akan berhenti dari profesi ini,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait