Ternyata Pernikahan Usia Dini Masih Tinggi

 Jum`at, Tanggal 09-11-2018, jam 06:05:47
BERSINERGI : Direktur Bina Kesertaan Keluarga Berencana Jalur Wilayah dan Sasaran Khusus pada BKKBN Pusat Drs Nerius Auparay Msi (empat kiri) saat acara integrasi pemberdayaan keluarga di Desa Bajarum Kecamatan Kotabesi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (7/11). BKKBN UNTUK KALTENG POS

SAMPIT–Di Kalteng angka perkawinan usia dini atau dibawah umur, hingga saat ini masih relatif tinggi. Terutama pada perempuan. Hal itu juga menjadi salah satu faktor pemicu tingginya angka perceraian.

“Fakta dan data yang kita lihat saat ini, kecenderungan angka perceraian pasangan muda suami-istri terus meningkat,” kata Anggota Komisi IX DPR RI, Hang Ali Saputra Syah Pahan, pada acara integrasi pemberdayaan keluarga yang dilaksanakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Desa Bajarum Kecamatan Kotabesi Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (7/11).

Kondisi ini, sebut Hang Ali, sudah semestinya mendapat perhatian semua pihak, baik mulai dari orangtua, masyarakat hingga pemerintah. Pasalnya, imbuh dia, pada pernikahan usia dini atau kawin di bawah umur, selain melanggar Undang-Undang, secara fisik dan psikologis, pasangan bersangkutan juga belum matang akal pikiran, belum siap melakukan proses reproduksi, juga rentan pengendalian emosi karena cenderung masih labil.

Hal tersebut juga dipertegas Direktur Bina Kesertaan KB Jalur Wilayah dan Sasaran Khusus BKKBN pusat, Nerius Auparay. Menurut dia, menikah di usia sangat muda sangat berpotensi membuat pasangan tidak siap secara psikis dan belum mampu menghadapi kemungkinan masalah-masalah yang akan terjadi selama membangun bahtera rumah tangga.

Selain itu, perkawinan yang terjadi di umur terlalu muda juga berdampak buruk bagi kesehatan sang mempelai wanita yang dapat memicu terjadi gangguan kesehatan, seperti kanker mulut rahim, kematian ibu dan anak saat melahirkan, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

 “Menikah butuh banyak persiapan, tidak cukup hanya sekadar keinginan. Di sinilah bimbingan pra nikah menjadi penting. Setiap pasangan harus mengerti benar apa dan bagaimana kesiapan mereka baik sebagai istri atau suami, yang kelak menjadi orang tua jika diberikan keturunan,” kata Nerius.(pri/k-5)

 

Berita Terkait