Kala Dua Penyandang Tunanetra Raih Juara Literasi Tingkat Nasional

Menulis Pakai Laptop Pinjaman, Hadiah untuk Tabungan Kuliah

 Kamis, Tanggal 08-11-2018, jam 05:38:11
Ikhsanul Sodikin (kiri) dan Muhammad memperlihatkan medali mereka saat menjuarai lomba literasi tingkat nasional. (SUTRISNO/RADAR BANJARMASIN)

Memiliki keterbatasan tak menghentikan dua penyandang tunanetra, Ikhsanul Sodikin (17) dan Muhammad (20) untuk menggapai prestasi. Mereka berhasil meraih juara dalam Festival dan Lomba Literasi Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus 2018, beberapa waktu lalu.

 

SUTRISNO, Martapura

 

DUA siswa SLB A Negeri 3 Martapura tersebut ditemui di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Fajar Harapan Kalsel, Jalan A Yani Km 37,5, Kelurahan Sungai Paring, Martapura, beberapa waktu lalu.

Didampingi guru pembimbing mereka, Aan Setiawan, keduanya secara bergantian menceritakan pengalaman mereka saat mengikuti lomba literasi, yang diikuti oleh perwakilan dari 34 provinsi se-Indonesia.

Radar Banjarmasin (Grup Kalteng Pos) berbincang-bincang dengan mereka. Ikhsanul Sodikin, yang lebih dahulu bercerita, mengaku tidak menyangka bisa meraih juara II kategori cipta dan baca puisi, dalam ajang yang digelar di Jakarta pada tanggal 27 hingga 31 Oktober tersebut. "Padahal saya baru satu bulan ini intens belajar membaca dan membuat puisi. Alhamdulillah bisa juara," katanya.

Dia mengaku mulai mengenal puisi sejak 2016 lalu. Ketika itu, dirinya diikutsertakan dalam lomba membaca puisi di Balai Bahasa Kalsel. "Setelah itu saya sering diajak guru ke Minggu Raya, untuk mendengarkan orang-orang sedang membaca puisi," ucapnya.

Dari situ dia mulai tahu bagaimana cara membaca puisi. Kemudian, awal September 2018, dirinya ikut seleksi tingkat provinsi untuk mengikuti Festival dan Lomba Literasi Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus. "Ternyata saya terpilih mewakili Kalsel dalam lomba literasi itu," kisah pria asal Desa Tungkaran, Kabupaten Banjar ini.

Lomba literasi sendiri dimulai dengan babak penyisihan. Dalam tahap itu, peserta secara bergantian diminta membaca puisi di hadapan para juri. "Saya kemudian masuk final, bersama 11 peserta lainnya. Di babak final, kami diminta membuat puisi dengan tema cerita rakyat," kata Ikhsanul.

Dari tiga judul cerita rakyat yang ditentukan panitia, dia memilih kisah Timun Emas untuk materi puisinya. Juri pun tertarik dan memutuskan bahwa dirinya meraih juara II. "Puisi itu saya ketik pakai laptop pinjaman, yang dilengkapi aplikasi menulis untuk tunanetra. Dengan aplikasi itu, kita akan tahu huruf apa yang kita ketik, karena ada suaranya," ungkapnya.

Selain Ikhsanul. Muhammad juga mengaku tak menyangka berhasil mendapatkan juara III dalam Festival dan Lomba Literasi Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus, kategori penulisan kreatif cerpen. Sebelumnya ia pernah meraih juara III literasi sinopsis dalam ajang yang sama, pada 2016 lalu. "Saya memang suka membaca. Kalau ada waktu senggang, suka menulis. Jadi sudah biasa merangkai kata," ucapnya.

Dalam festival literasi itu, dia harus menulis dua cerpen. Yakni di tahap penyisian dan ketika masuk fase final. "Yang masuk final 12 orang. Alhamdulillah saya terpilih jadi juara III," ujar pria asal Rantau, Tapin ini.

Muhammad mengaku senang mampu meraih juara. Sebab, hadiah yang diterimanya dapat ditabung untuk tambahan biaya kuliah jurusan IT khusus penyandang tunanetra. "Saat ini jurusan IT tunanetra hanya ada di Banten. Saya, ingin sekali kuliah di sana," katanya.

Guru SLB A Negeri 3 Martapura, Aan Setiawan mengaku mendukung semua keinginan siswanya, asalkan berada pada jalur yang baik. "Kita beri semangat saja sesuai minat mereka. Dikembangkan dengan cara dipertemukan dengan ahlinya untuk menambah wawasan," ungkapnya.

Dia menambahkan, selain Ikhsanul dan Muhammad, tahun ini ada siswa juga lain yang berprestasi di tingkat nasional. Ahmad Nazimullah meraih juara II nasional catur. Selain itu, ada Leman Abidin  yang menjadi juara harapan I Tilawatil Quran. (ris/ay/ran/ce/KPG)

Berita Terkait