Cara Membuat Batik Unik dan Menarik Khas Kalteng (2/Selesai)

Kulit Bawang Bombai Semakin Menonjolkan Warna

 Rabu, Tanggal 07-11-2018, jam 05:09:08
Batik merupakan kekhasan Indonesia. Sudah seharusnya dilestarikan. Bahkan, terobosan dalam produk batik pun beragam. Seperti batik dengan pewarnaan berbahan getah daun. (ANISA/KALTENG POS)

Tidak perlu menunggu lama. Setelah membuat warna berbahan getah daun hutan, peserta pun langsung mencelupkan kain sutra putih polos ke dalam ember berisi air yang sudah dicampur cuka.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

 

“JANGAN lupa peras kain dengan kuat agar mengurangi kadar airnya,” ucap Misrita kepada peserta pelatihan.

Kain dibentangkan. Para peserta melakukan proses selanjutnya. Menempel berbagai macam daun yang sudah direndam selama 24 jam. Di sinilah peserta diuji menujukkan kreativitasnya.

“Daunya kan banyak, jadi peserta harus kreatif memasang daun-daun itu. Menyusun menjadi batik yang indah,” ucapnya saat dibincangi di sela-sela mengajari peserta menempel daun.

Ada yang mulai menempel daun cemara, ada yang menempel kulit bombai, dan lain sebagainya. Untuk kulit bombai, memiliki keunggulan tersendiri. Pasalnya, kulit bombai mampu menonjolkan warna yang tajam terhadap kain.

“Iya, bombai ini keunggulanya mampu memberikan warna yang menonjol. Jadi bisa mempercantik keindahan batik nantinya,” jelas perempuan berusia 47 tahun ini.

Lumayan lama, karena peserta harus berpikir ekstra menciptakan karya yang indah melalui tempelan daun di atas kain sutra tersebut. setelah semua daun menempel, untuk benar-benar melekatkan pada kain, harus melakukan proses selanjutnya. Pounding. Begitulah istilah pemukulan yang dilakukan ke daun. “Setelah dipukul, ditutup plastik, lalu digulung ya. Ingat! Mesti perlahan, agar menempel sempurna. Lalu, ikat dengan kuat,” tuturnya mengarahkan.

Serangkaian proses sudah dijalankan. Tinggal mengukus gulungan kain itu di atas kompor dengan api sedang. Pengukusan memerlukan waktu minimal 1,5 jam dan maksimal 2 jam. “Tidak boleh kurang dari satu jam. Nanti hasilnya tidak sempura,” singkatnya.

Sekitar pukul 19.00 WIB, segala proses membatik berakhir. Termasuk pengukusan kain. Sempurna. Kain sutra berukuran 1x2 meter itu, yang awalnya putih polos, kini berubah menjadi selembar kain yang sangat indah. Siapa sangka itu hanya berbahan daun dari alam?

“Nah. Segala proses sudah selesai. Sekarang tinggal dikeringkan. Yang mesti diperhatikan, jangan sampai terkena matahari langsung. Menakjubkan bukan? Kain polos berwarna putih disulap menjadi kain cantik satu-satunya di dunia,” bebernya dengan penuh kelegaan.

Kreatif. Itulah julukan yang pas disematkan kepada perempuan yang akan berulang tahun pada 18 November nanti. Idenya berawal saat menyelesaikan pendidikan doktor program studi linguistik jurusan ilmu humaniora, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Salah satu rekannya pun menerapkan hal serupa. Ia pun tertarik untuk menerapkan ide tersebut di Kalteng, yang terkenal dengan hutannya.

“Kalteng kan terkenal dengan hutannya. Saya pun berinisiatif menerapkan hal itu di Bumi Tambun Bungai ini,” ucapnya kepada Kalteng Pos.

Kekreatifannya ini sengaja ditularkan kepada kaum hawa di Kalteng. Seperti para dosen dan istri dosen yang tergabung dalam kelompok Dharma Wanita. Selain untuk mengisi waktu senggang, juga bisa ditularkan kepada orang lain. “Ada salah satu istri dosen yang berprofesi sebagai guru. Rencananya ide ini pun akan ditularkannya kepada murid-murid,” kisahnya.

Sementara itu, Ketua Dharma Wanita, Rizali mengatakan, alasan memilih membatik menggunakn daun-daun alam, ialah untuk memanfaatkan hasil alam, yang sudah tentu tersedia di sekeliling dan sangat mudah mendapatkanya. Kemudian, sambung dia, karena kelompok Dharma Wanita ini bergerak di bidang pengajian. Karena itu, hasil membatik dapat dimanfaatkan menjadi kerudung.

“Hasil membatik dapat digunakan menjadi kerudung, sehingga ada kebangaan tersendiri saat mengenakan kerudung hasil karya sendiri,” pungkasnya. (*/ce)

Berita Terkait