Cara Membuat Batik Unik dan Menarik Khas Kalteng (1)

Berbahan Getah Daun Ulin dan Mawar

 Selasa, Tanggal 06-11-2018, jam 05:21:03
Misrita (kerudung hitam) saat memberikan pelatihan kepada anggota Dharma Wanita UPR, bagaimana membatik menggunakan daun, di Aula Perumahan Dosen UPR, beberapa waktu lalu. (ANISA/KALTENG POS)

Batik memang lebih terkenal di Pulau Jawa. Tapi siapa sangka, justru batik Kalteng pun unik dan menarik untuk dikembangkan. Apalagi, berbahan dasar getah kayu hutan dan dedaunan.

ANISA B WAHADAH, Palangka Raya

SIANG selepas azan Zuhur berkumandang, satu per satu anggota Dharma Wanita UPR mendatangi aula perumahan dosen UPR. Tujuanya tidak lain adalah belajar membatik. Yang unik dan menariknya, yang mau dipelajari mereka adalah membatik dengan bahan daun yang diambil dari alam.

Batik berbahan daun tersebut digagas salah satu dosen Universitas Palangka Raya (UPR), Misrita. Belajar membatik bersamanya, tak perlu membawa peralatan. Semua sudah disiapkan.

Saat memasuki ruangan berukuran 4x4 meter itu, siapa saja akan disambut bau aneh dan asing ditangkap indra penciuman.

Ternyata, bau tersebut bersumber bahan yang sudah dikumpulkan Misrita sebagai bahan untuk membatik.

Berbagai macam daun. Ada daun tamih, ulin, cemara, jambu, dan daun mawar. Direndam dalam air bercampur tunjung (obat khusus perendaman membatik). Di sekeliling ember hijau untuk merendam bahan tersebut, terdapat berbagai macam alat dan bahan membatik. Di antaranya, benang, gunting, pengukus, kompor, cuka, ember, air, palu, tunjung, dan plastik.

“Inilah bahan yang akan kita buat untuk membatik,” kata Misrita menjelaskan kegunaan alat dan bahan tersebut.

Sebagian peserta terlihat paham sambil menganggukkan kepala. Namun, sebagian yang masih tak paham, mengajukan pertanyaan. Dengan telaten, perempuan yang sudah menjadi dosen sejak 1999 itu, kembali menjelaskan. Perlahan, peserta mulai memahami, sembari celotehan-celotehan lucu terucap dari setiap peserta.

Sekitar 30 menit mendapat panduan dari perempuan asli Desa Patai, Kabupaten Kotawaringin Timur ini, praktik membatik dimulai. Berawal dengan menuangkan satu cuka makanan ke dalam air dengan perbandingan 1:1 liter. Memang. Baunya sangat tak sedap alias menyengat. Tapi itu sudah menjadi salah satu proses membatik.

“Baiklah, cuka sudah dicampur dengan air. Selanjutnya memasukkan kain sutra. Direndam beberapa detik saja. Lalu, peras dengan kuat,” ucapnya  memberi arahan kepada peserta pelatihan. (ce/bersambung)

Berita Terkait