Ketika Aksi di Atas Panggung Tak Lagi Digandrungi

Penonton Teater Kian Sepi di Kalteng

 Senin, Tanggal 05-11-2018, jam 05:55:14
Pentas teater yang semakin langka, akhirnya dapat dinikmati pencintanya, Sabtu (3/11) malam. (RIDUAN/KALTENG POS)

Hari demi hari, pertumbuhan penduduk terus meningkat. Bicara demografi khususnya anak muda, justru sekarang menjadi dominasi penduduk negeri ini. Namun, kenapa penikmat aksi panggung seniman peran malah semakin sedikit?

 

M RIDUAN NOOR, Palangka Raya

TIDAK berlebihan tentunya, apabila menggambarkan kompleksitas kesenian teater sebagai hal yang sederhana tapi kompleks.

Seni teater sering dianggap sekadar drama dengan menggabungkan berbagai seni pertunjukan. Dilihatnya sangat sederhana. Padahal, banyak hal yang bisa dilakukan di dalam teater.

Kritik sosial melalui mimik, suara, gerak tubuh, hingga sekadar melakoni peran tokoh yang bertugas hanya diam di atas panggung, dapat dinikmati secara bersamaan.

Selebritas sehebat apa pun memerankan tokoh, tak bisa lepas dari teater. Bahkan, kebanyakan artis peran, belajar dasar-dasar memerankah tokoh protagonis maupun antagonis dari sebuah teater. Namun, kini yang terlihat adalah kehebatan aksi sang aktor dari layar lebar. Bukan kehebatan aktor yang dilihatdari panggung teater.

Misalnya, dalam temu teater di Aula Universitas Palangka Raya (UMP) yang hanya menampilkan dua kelompok. Padahal acara tersebut mengundang sanggar teater di seluruh Kalimantan.

Kelompok pertama kali tampil adalah Sanggar Budaya Kalsel. Kelima orang di dalamnya, memerankan dan menyampaikan cerita seseorang saling membenci, yang pada akhirnya menjalin kasih sayang.

Seorang pemain teater dari sanggar budaya Kalsel, Jeanchristy Humaniora Abdi, membagikan kisahnya bermain teater. Kesulitan yang sering dialami adalah pendalaman terhadap peran yang dimainkan.

“Kita harus benar-benar mendalami peran tersebut dan fokus setiap kali tampil, agar menghasilkan cerita yang bagus,” ungkapnya kepada Kalteng Pos.

Ia juga pernah tampil pada kancah nasional di Aceh. Mendapat juara dua untuk Kalimantan Selatan. Perempuan yang masih duduk di bangku kelas XII itu, saat ini lebih memilih fokus sekolah, agar mendapatkan hasil yang memuaskan nantinya.

“Setelah lulus ini, saya akan melanjutkan ke perguruan tinggi yang memiliki jurusan seni teaternya. Saya benar-benar menyukai seni teater, karena bisa berekspresi dengan luas di dalamnya,” ceritanya.

Namun sangat disayangkan, tak banyak pemuda-pemudi sepertinya yang tetap melestarikan seni peran. Teater.

Panitia temu teater, Agung Catur Prabowo mengatakan, acara teater tersebut baru pertama kali dilaksanakan. Sabtu (3/11) malam hanya dihadiri dua kelompok saja.

“Kami takkan lelah dalam melestarikan teater ini, karena drama ini sangat bagus sekali jika banyak peminatnya. Karena dalam teater kita dapat menceritakan hal fiksi yang kemungkinan besar ada dalam kehidupan nyata,” ceritanya kepada Kalteng Pos.

Memang saat ini peminat teater mengalami penurunan yang sangat drastis, terutama di Kalteng. Peminatnya, kata dia, sangat sedikit. Maka dari itu, tak henti-henti pihaknya mengadakan pentas teater, dengan maksud menarik minat anak muda di Kalteng, khususnya Kota Palangka Raya.

“Cara kami mengajak anak muda untuk menyukai teater dengan cara selalu tampil di mana-mana,” bebernya. (idu/ce/abe)

Berita Terkait