Raih Bonus Demografi, Kalteng Berkah

 Minggu, Tanggal 04-11-2018, jam 08:14:55
Oleh : Iskandar

PADA 24 Agustus 2018 yang lalu, Jusuf Kalla meluncurkan buku Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045 di Jakarta. Dalam buku tersebut jumlah penduduk Kalimantan Tengah pada 2045 diproyeksikan mencapai 3.386,7 ribu jiwa, atau bertambah 889,4 ribu dibandingkan dengan 2015. Meskipun demikian, laju pertumbuhan penduduk semakin melambat. Periode 2015-2020, penduduk bertambah 1,47 persen per tahun melambat menjadi 0,59 persen di akhir periode proyeksi. Perlambatan ini terjadi karena faktor fertilitas yang menurun dan terjadinya bonus demografi.

Menurut para ekonom demographer, bonus demografi adalah keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh menurunnya Rasio Ketergantungan (RK) sebagai hasil proses penurunan fertilitas jangka panjang. Penurunan proporsi penduduk di bawah usia 15 tahun ini, mengurangi besarnya investasi untuk membesarkan anak-anak menjadi modal manusia berkualitas (dibanding sebelumnya). Sehingga sumber daya dapat dialihkan kegunaannya untuk memicu pertumbuhan ekonomi, yang bermula dari peningkatan mutu modal manusia yang lebih berkualitas (Adioetama, 2018).

Sejak tahun 2011, Kalteng telah menikmati bonus demografi karena nilai RK nya sudah berada di bawah angka 50 persen. Nilai RK terus bergerak turun hingga mencapai puncaknya pada periode 2019-2023 (41,8 persen sampai dengan 41,9 persen). Setelah periode tersebut diperkirakan angka ketergantungan akan meningkat lagi seiring dengan kenaikan penduduk tua (65 tahun ke atas). Yang menjadi perhatian selanjutnya adalah kesempatan yang diberikan bonus demografi berupa Jendela Peluang (the window of opportunity) tidak terjadi selamanya, melainkan hanya tersedia dalam waktu yang sangat singkat. Oleh karena itu, faktor yang menentukan keberhasilan pemanfaatan momentum ini harus dipersiapkan sebaik-baiknya.

PELUANG

Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) memperlihatkan penurunan TFR dari 2,8 (2012) menjadi 2,5 (2017). Besaran TFR ini lebih tinggi dari angka nasional (2,4). Dan angka Contraception Prevalence Rate (CPR) Kalimantan Tengah sebesar 73,2 persen merupakan tertinggi kedua se-Indonesia setelah Yogyakarta (76,0 persen) dan lebih tinggi dari angka CPR nasional (63,6 persen). Artinya, dari 100 perempuan berusia 15-49 tahun yang berstatus kawin ada 73 perempuan yang menggunakan alat kontrasepsi. Besaran CPR Kalimantan Tengah ini berpengaruh positif bagi penurunan fertilitas dan menjamin terjadinya Jendela Peluang di Kalimantan Tengah.

TANTANGAN

Pertama, penyerapan tenaga kerja oleh lapangan usaha belum optimal. Di bulan Februari 2018, BPS mencatat jumlah pengangguran di Kalimantan Tengah sebanyak 44,4 ribu atau sekitar 3,18 persen. Meskipun relatif rendah dibanding angka nasional (5,13 persen), akan tetapi sekitar 55,08 persen bekerja di sektor informal. Padahal sektor informal identik dengan produktivitas yang rendah. Pada saat Jendela Peluang terbuka, proporsi penduduk usia kerja akan semakin besar dibanding dengan proporsi penduduk muda. Apabila terserap dalam pasar kerja dan mempunyai pekerjaan yang produktif, maka produksi per kapita akan meningkat. Bila yang terjadi sebaliknya, tingkat pengangguran tinggi, atau produktivitasnya rendah maka harapan untuk meningkatkan kesejahteraan akan pupus.

Kedua, kualitas Sumber Daya Manusia sebagai modal manusia di masa mendatang masih memprihatinkan. Berdasarkan data Susenas (Maret 2017), ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki penduduk usia 15 tahun ke atas sebagian besar (44,21 persen) hanya SD/tidak mempunyai ijazah. Sementara itu, angka partisipasi sekolah pada kelompok umur 7-12, 13-15, dan 16-18 masing-masing sebesar 99,50 persen, 93,37 persen, dan 66,62 persen. Padahal, pembangunan ekonomi membutuhkan modal manusia yang berkualitas, baik pendidikan, kesehatan dan faktor lain yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dengan profil angkatan kerja seperti itu, dapat dibayangkan bagaimana kualitas modal manusia Kalimantan Tengah dalam menyongsong Jendela Peluang. Kalimantan Tengah tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik saja melainkan juga investasi modal manusia.

KALIMANTAN TENGAH BERKAH

Kesempatan langka yang diberikan dari bonus demografi ini tidak boleh tersia-siakan. Sebab, momen ini berpotensi dimanfaatkan untuk mengentaskan 136.928 (5,17 persen) penduduk Kalimantan Tengah yang masih dibelenggu oleh kemiskinan (kondisi Maret 2018). Untuk itu, pemerintah perlu meraih bonus demografi dengan melakukan beberapa kebijakan.

Pertama, lebih mengintensifkan lagi program Keluarga Berencana guna mengendalikan angka kelahiran.

Kedua, meningkatan kualitas penduduk usia produktif (15-64 tahun) baik melalui jalur pendidikan formal (Pendidikan Menengah ke atas) maupun memberikan bekal keterampilan yang sesuai dengan lapangan pekerjaan.

Ketiga, mewujudkan iklim investasi yang kondusif sehingga mendorong terciptanya lapangan pekerjaan terutama di sektor formal. Keempat, meningkatkan kualitas kesehatan penduduk lanjut usia sebagai aset keberlangsungan bonus demografi kedua. Mudah-mudahan bonus demografi ini menjadi berkah bagi penduduk Kalimantan Tengah. Aamiin. (*)

(Penulis adalah Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Jawa Tengah)

Berita Terkait